Apa Itu Hipogami? Tren Pernikahan Modern yang Mulai Meningkat

hipogami
ilustrasi hipogami (istock)
TIMETODAY.ID — Di era ketika perempuan semakin terdidik, mandiri secara finansial, dan aktif menentukan arah hidupnya, satu tren sosial mulai muncul ke permukaan: hipogami.
Berlawanan dengan konsep lama yang mungkin sudah tak asing—hipergami, di mana perempuan mencari pasangan dengan status sosial atau ekonomi lebih tinggi—hipogami justru menggambarkan perempuan yang memilih pasangan yang status sosialnya lebih rendah.
Fenomena ini bukan sekadar statistik, tapi refleksi dari pergeseran nilai dalam masyarakat modern.
Apa Itu Hipogami?
Menurut Kamus Oxford, hipogami adalah kondisi perkawinan di mana status sosial perempuan lebih tinggi daripada pasangannya. Artinya, perempuan bisa jadi lebih berpendidikan, lebih mapan secara ekonomi, atau memiliki posisi sosial yang lebih tinggi dibanding pria yang ia nikahi.
Sosiolog dari Universitas Wina, Nadia Steiber, menjelaskan bahwa kesenjangan pendidikan saat ini—di mana perempuan berpendidikan tinggi kini jauh lebih banyak dibanding laki-laki—telah menggeser norma pernikahan tradisional.
Ketika Cinta Tak Lagi Soal “Naik Kasta”
Selama berabad-abad, perempuan secara sosial dan budaya “didorong” untuk mencari pasangan yang bisa mengangkat status mereka. Namun kini, dengan keberhasilan perempuan dalam pendidikan dan karier, narasi itu mulai berubah.
Justru, banyak perempuan tak lagi merasa harus “naik kelas” lewat pernikahan. Mereka sudah memiliki kelasnya sendiri. Dan yang mereka cari bukan kekuasaan atau prestise pasangan, melainkan koneksi emosional, kesetaraan nilai, dan kenyamanan.
Hipogami bukan soal “turun kelas”. Ini adalah bentuk otonomi dalam memilih pasangan, di mana cinta tak lagi ditentukan oleh gaji atau gelar.
Hipogami Pendidikan: Tren yang Kian Nyata
Salah satu bentuk hipogami yang paling sering ditemui adalah hipogami pendidikan—ketika perempuan memilih pasangan dengan tingkat pendidikan lebih rendah.
Penelitian menunjukkan, fenomena ini semakin umum terjadi di masyarakat Barat. Di Indonesia, mungkin belum menjadi wacana publik besar, tapi kenyataan ini mulai terasa di sekitar: perempuan sarjana yang menikah dengan pria lulusan SMA, atau perempuan karier yang justru nyaman dengan pasangan wirausaha kecil.
Dan kenyataannya, banyak dari hubungan ini tetap bahagia dan sehat.
Mengapa Hipogami Terjadi?
Beberapa faktor utama:
  • Peningkatan pendidikan dan penghasilan perempuan
  • Menurunnya keterlibatan orang tua dalam memilih jodoh
  • Revolusi gender yang mengubah cara perempuan memandang pernikahan
  • Kebutuhan emosional dan nilai kehidupan yang lebih diutamakan daripada status sosial
Dengan makin banyaknya perempuan yang tidak ingin terjebak dalam relasi kekuasaan berbasis ekonomi, hipogami bisa menjadi bentuk perlawanan halus terhadap standar patriarkis lama.
Bukan Masalah Status, Tapi Pilihan Hidup
Fenomena hipogami bisa jadi mengganggu norma lama, namun bagi banyak perempuan masa kini, ini adalah tentang satu hal: kebebasan memilih. Ketika perempuan memilih pasangan yang tidak lebih kaya, tidak lebih berpendidikan, atau bahkan tidak lebih “tinggi” secara sosial, itu bukan karena mereka kekurangan opsi.
Sebaliknya, itu karena mereka tahu apa yang mereka inginkan: relasi yang sehat, setara, dan membebaskan.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Baca Juga :  Daftar Film Bioskop Februari 2025, Mulai Fantasi, Horor, hingga Aksi!

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel