Lebih Tenang dari Kopi? Fakta Kafein dalam Matcha yang Jarang Diketahui

matcha
matcha (istock)
TIMETODAY.ID — Di era media sosial yang penuh warna, satu warna tampaknya mendominasi lini masa: hijau khas matcha. Mulai dari TikTok hingga Instagram, tren makanan dan minuman berbasis matcha merajalela. Dari matcha latte yang lembut hingga matcha soda yang menyegarkan, kehadiran si bubuk teh hijau ini seolah menjadi simbol gaya hidup kekinian—alami, elegan, dan sedikit eksotis.
Tak hanya berhenti di kafe-kafe Instagramable, matcha kini hadir dalam berbagai bentuk menggoda: soft serve, lemonade, bahkan cocktail seperti matcha-rita. Popularitasnya terus menanjak, menjadikan matcha bukan hanya tren sesaat, tapi bagian dari rutinitas harian anak muda urban.
Namun di balik warnanya yang menenangkan dan rasanya yang umami, ada satu hal yang sering dilupakan: kandungan kafein dalam matcha.
Kafein di Balik Bubuk Halus
Matcha bukan sembarang teh hijau. Ia dibuat dari daun teh yang sengaja ditanam di bawah naungan untuk meningkatkan kadar klorofil dan L-theanine—senyawa yang memberikan efek menenangkan dan rasa khas umami. Proses inilah yang membuat matcha tampil mencolok dengan warna hijau cerah.
Matcha seremonial biasanya mengandung sekitar 30 hingga 60 miligram kafein per porsi,” ujar Kristina Tucker dari The Republic of Tea, dikutip dari Real Simple.
Meski terkesan ringan, jumlah ini cukup signifikan—terutama bila dibandingkan dengan teh biasa. Jenis matcha pun memengaruhi kadar kafein. Matcha seremonial dari daun teh muda berkualitas tinggi cenderung memiliki kafein lebih banyak dibanding matcha kuliner yang biasa digunakan untuk masakan.
Lebih Ringan dari Kopi, Tapi Tetap Waspada
Banyak penggemar matcha menganggapnya sebagai alternatif lebih sehat dari kopi. Anggapan ini tidak salah. Jika satu cangkir kopi mengandung sekitar 95 hingga 200 mg kafein, maka matcha hanya berkisar di 30-60 mg. Tetapi, jumlah tetaplah jumlah. Bagi sebagian orang, bahkan setengah porsi bisa cukup membuat mata melek semalaman.
Namun, ada kelebihan lain yang dimiliki matcha dibanding kopi. Kafein dalam matcha hadir berdampingan dengan L-theanine, asam amino yang dikenal menenangkan. Kombinasi ini menciptakan efek stimulan yang lebih stabil—tidak membuat gelisah atau jantung berdebar seperti kopi.
Karena itulah, banyak yang memilih matcha sebagai sumber energi tanpa risiko caffeine crash.
Menikmati Matcha Tanpa Gangguan Tidur
Meski kandungan kafeinnya lebih rendah, beberapa orang tetap merasa “terlalu segar” setelah meneguk matcha di sore hari. Jika Anda salah satunya, berikut beberapa tips agar tetap bisa menikmati matcha tanpa mengorbankan waktu tidur:
  1. Kurangi takaran bubuk
    Semakin banyak bubuk matcha yang digunakan, semakin tinggi pula kafeinnya. Gunakan hanya setengah sendok teh untuk hasil lebih ringan.
  2. Campur dengan susu atau alternatifnya
    Membuat matcha latte dengan oat milk, almond milk, atau susu sapi bisa membantu mengencerkan kafein sekaligus memberi rasa lebih creamy.
  3. Tambahkan bahan penyeimbang
    Kombinasi bahan seperti jahe, chia seed, atau madu tidak hanya menambah cita rasa, tapi juga membantu menetralkan efek stimulan dari kafein.
Si Hijau yang Mendamaikan, Tapi Perlu Dikenal Lebih Dekat
Seiring popularitasnya yang terus meningkat, matcha bukan lagi sekadar minuman, melainkan bagian dari identitas gaya hidup urban modern—sehat, estetik, dan mindful. Namun seperti semua hal yang baik, mengenalnya lebih dalam adalah kunci. Termasuk memahami bahwa di balik kelembutan rasanya, matcha tetap mengandung kafein.
Jadi, sebelum meneguk secangkir matcha latte sore ini, ada baiknya Anda tahu: apakah si hijau lembut ini akan jadi teman relaksasi… atau justru pengganggu tidur malam Anda?

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Baca Juga :  Naik Kapal Laut Kini Makin Mudah, Ini Cara Pesan Tiket Online dan Offline di Tahun 2025

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel