
TIMETODAY.ID — Jelang Lebaran, warganet kembali menemukan cara baru untuk mengekspresikan semangat berbagi—kali ini lewat sebuah tarian viral bertajuk “Bagi-Bagi THR.”
Dengan gerakan yang enerjik, ritme cepat, dan formasi barisan yang kompak, tarian ini dengan cepat membanjiri timeline TikTok, Instagram, hingga YouTube Shorts. Mulai dari anak-anak hingga para nenek dan kakek, semua ikut bergoyang, sambil menyisipkan amplop-amplop lucu atau animasi “duit lebaran” sebagai pelengkap.
Namun, di tengah viralnya tren ini, muncul juga spekulasi yang cukup mengejutkan.
Disangka Tarian Yahudi, Kok Bisa?
Sejumlah netizen curiga. Gerakan dan irama lagu yang mengiringi tarian ini disebut-sebut mirip dengan tarian Hora, tarian khas komunitas Yahudi yang sering ditampilkan dalam acara pernikahan dan perayaan religius. Spekulasi ini diperkuat oleh irama musik pengiring yang terdengar seperti lagu-lagu Timur Tengah atau khas Israel.
Narasi “infiltrasi budaya asing” pun mulai mencuat, terutama di forum-forum online yang kerap sensitif terhadap isu budaya dan agama. Beberapa warganet bahkan meminta agar tren ini dihentikan sampai asal-usulnya jelas.
Namun ternyata… asal-usulnya sangat jauh dari dugaan.
Aslinya dari Finlandia!
Setelah ditelusuri, gerakan tarian yang viral ini bukan berasal dari Timur Tengah, apalagi budaya Yahudi. Tarian tersebut berasal dari Finlandia, bernama Letkajenkka (atau “Letka Jenkka”).
Letkajenkka adalah tarian rakyat yang sudah ada sejak abad ke-19, merupakan versi modern dari tarian Jenkka, turunan dari schottische—jenis dansa rakyat Eropa yang dikenal di Jerman, Skandinavia, dan sekitarnya.
Tarian ini biasanya dilakukan dalam formasi baris panjang, para peserta saling memegang bahu atau pinggang, lalu bergerak maju, mundur, dan lompat mengikuti irama cepat dan ceria.
Letkajenkka menjadi populer di dunia internasional pada tahun 1960-an lewat lagu “Letkis” karya Rauno Lehtinen. Bahkan sempat menjadi tren dansa global saat itu—mirip dengan bagaimana tarian TikTok meledak hari ini.
Kenapa Bisa Viral Lagi?
Kembali populernya Letkajenkka di tahun 2025 ini tak lepas dari kreativitas warganet yang menggabungkan gerakan lawas itu dengan nuansa lokal seperti amplop THR, baju Lebaran, dan musik remix. Hasilnya? Sebuah tren baru yang segar, lucu, dan penuh semangat menjelang Idul Fitri.
Kreativitas vs Sensitivitas
Tren ini jadi contoh menarik bagaimana kreativitas digital bisa memicu diskusi lintas budaya. Di satu sisi, ada kekhawatiran soal asal-usul budaya dan sensitivitas religius. Di sisi lain, ada juga semangat inklusi dan adaptasi yang menunjukkan budaya digital tak punya batas geografis.
Dan yang paling penting—kita diingatkan bahwa sebelum menyebar spekulasi, cek dulu fakta dan konteksnya.
Fun Fact:
Kalau kamu pernah lihat barisan orang berjoget sambil lompat-lompat maju mundur seperti “kereta-keretaan”—ya, itu Letkajenkka!
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel






































