Perang Dagang AS-China Picu Gejolak: Harga Minyak Anjlok ke Titik Terendah Sejak Pandemi

minyak global
ilustrasi minyak Global (istockphoto)

TIMETODAY.ID — Pada Jumat, 4 April 2025, pasar minyak global terguncang. Harga minyak mentah dunia tiba-tiba anjlok lebih dari 8 persen—penurunan harian terbesar dalam dua tahun terakhir. Bukan hanya sekadar koreksi pasar, ini adalah respon terhadap ancaman geopolitik yang nyata: perang dagang besar-besaran antara dua raksasa ekonomi dunia, Amerika Serikat dan China.

Situasi ini menciptakan kecemasan tak hanya di lantai bursa, tapi juga di benak banyak orang: apakah kita sedang menuju krisis global berikutnya?

Dari Tarik Ulur Dagang ke Jeratan Ekonomi Global

Segalanya bermula ketika Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk kembali meningkatkan tarif impor terhadap China. Sebagai balasan, pemerintah Beijing mengumumkan tarif tambahan sebesar 34 persen terhadap semua barang asal AS, efektif mulai 10 April 2025.

Advertisement

Keputusan ini tak hanya berdampak pada harga barang konsumsi, tapi juga memicu gejolak pasar global. Bursa saham melemah, nilai tukar terguncang, dan harga minyak—yang sensitif terhadap ketidakpastian ekonomi—langsung merosot drastis.

Harga Brent crude turun 7,6 persen menjadi 64,84 dolar AS per barel, sementara WTI (West Texas Intermediate) jatuh 8,2 persen ke 61,48 dolar AS per barel. Keduanya mencatat penurunan mingguan terbesar sejak pandemi Covid-19 melanda dunia pada tahun 2021.

“Perang dagang global bukan hanya soal siapa yang menang. Ini soal siapa yang paling sedikit rugi,” ujar Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank.

Baca Juga :  Upaya Amankan Jalur Minyak Dunia Gagal, Rusia-China Veto Resolusi PBB

Minyak: Komoditas yang Rentan pada Ketidakpastian

Minyak selalu menjadi indikator utama kesehatan ekonomi global. Ketika dunia tumbuh, kebutuhan energi meningkat. Tapi ketika ketegangan geopolitik melumpuhkan perdagangan, permintaan minyak ikut terseret.

Kali ini, ada dua pukulan yang membuat harga minyak tersungkur: perang dagang dan kebijakan OPEC+.

Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) mengumumkan akan mempercepat peningkatan produksi minyak menjadi 411.000 barel per hari pada Mei 2025. Jumlah ini jauh lebih tinggi dari rencana awal yang hanya 135.000 bph.

Dengan permintaan global yang diperkirakan melemah akibat ketegangan dagang, keputusan ini justru menciptakan banjir pasokan di pasar, memperparah tekanan pada harga.

Efek Domino: Dari SPBU Hingga Pasar Saham

Apa arti semua ini bagi masyarakat biasa?

Dalam jangka pendek, anjloknya harga minyak mungkin terasa menguntungkan—harga BBM bisa turun, biaya logistik lebih murah. Namun, efek jangka panjangnya jauh lebih kompleks.

Ketidakstabilan harga minyak bisa mengganggu iklim investasi, memicu perlambatan pertumbuhan ekonomi, hingga memicu PHK massal di sektor energi, seperti yang terjadi di masa awal pandemi. Negara-negara penghasil minyak seperti Rusia, Arab Saudi, bahkan Indonesia, bisa mengalami tekanan fiskal.

Di sisi lain, perusahaan-perusahaan multinasional yang bergantung pada stabilitas perdagangan internasional juga mulai merasakan dampaknya. Bursa saham Wall Street dan Asia telah mengalami pelemahan tajam sejak perang tarif diumumkan.

Baca Juga :  Rusia Peringatkan AS: Serangan ke Iran Bisa Berujung Bencana

Menuju Krisis Baru atau Peluang Negosiasi?

Pertanyaan besar sekarang adalah: apakah eskalasi ini akan berakhir di meja diplomasi, atau justru membentuk babak baru dari ketegangan global?

Para analis memperingatkan bahwa jika perang dagang terus bereskalasi, bukan hanya minyak yang terdampak. Komoditas lain seperti logam, gandum, hingga chip semikonduktor bisa ikut terseret. Dunia bisa menghadapi resesi global baru, kali ini bukan karena virus, tapi karena konflik ekonomi yang tak kunjung usai.

Namun di balik ketegangan, selalu ada peluang. Negara-negara penengah, termasuk Uni Eropa dan ASEAN, bisa memainkan peran penting untuk memediasi dan membuka jalur dialog antara Washington dan Beijing.

Akhir Kata: Dunia yang Rapuh, Ekonomi yang Sensitif

Kejadian ini kembali mengingatkan kita: ekonomi global adalah sistem yang saling terhubung dan sangat rentan terhadap gejolak geopolitik. Satu keputusan di Gedung Putih atau Beijing bisa mengguncang harga minyak dan menekan dompet masyarakat di ujung dunia lain.

Ketika minyak—salah satu simbol kekuatan industri modern—terjerembab, itu pertanda bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja.

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel