Strategi Baru Beijing: Dorong Warga China untuk Lebih Banyak Berbelanja

China
Foto: Dalam foto yang dirilis oleh Kantor Berita Xinhua ini, Presiden China Xi Jinping menyampaikan pidato pada resepsi menjelang Tahun Baru Imlek di Aula Besar Rakyat di Beijing pada hari Senin, 27 Januari 2025. (AP/Li Xueren)

TIMETODAY.ID — Pemerintah China tengah bersiap untuk mengambil langkah konkret dalam meningkatkan konsumsi warganya. Langkah ini menjadi bagian dari strategi Beijing untuk menstabilkan ekonomi di tengah prospek yang masih suram.

Pada Minggu lalu, Kantor Umum Komite Sentral Partai Komunis China mengumumkan ‘Rencana Aksi Khusus untuk Meningkatkan Konsumsi’. Rencana ini mencakup berbagai upaya untuk memperluas permintaan domestik, meningkatkan daya beli masyarakat, serta mengurangi beban ekonomi bagi warga.

“Rencana ini juga memasukkan upaya untuk mengambil berbagai langkah dalam menstabilkan pasar saham dan mengembangkan lebih banyak produk obligasi yang sesuai untuk investor individu,” tulis dokumen yang dikutip dari CNBC International, Senin (17/3/2025).

Advertisement

Lebih lanjut, rencana ini juga menyoroti pentingnya peningkatan pendapatan bagi penduduk perkotaan dan pedesaan, termasuk petani. Pemerintah akan memberikan dukungan berupa kebijakan asuransi pengangguran serta berbagai rencana untuk memperkuat lapangan pekerjaan.

Selain itu, sektor pariwisata juga mendapat perhatian dalam rencana ini. Pemerintah China menargetkan pengembangan wisata musim dingin, dengan memberikan dukungan bagi kawasan es dan salju agar dapat menjadi destinasi wisata kelas dunia. Kebijakan bebas visa unilateral juga akan diperluas, serta pengaturan masuk regional akan dioptimalkan untuk menarik lebih banyak wisatawan internasional.

Baca Juga :  Hiswana Migas Pastikan Pasokan BBM di Bogor Aman

Langkah-langkah ini muncul hanya seminggu setelah Perdana Menteri China, Li Qiang, menyampaikan laporan tahunan pemerintah. Dalam laporannya, ia menekankan bahwa peningkatan konsumsi menjadi salah satu tugas utama bagi pemerintah di tahun mendatang. Para pembuat kebijakan di Beijing pun mulai mengakui pentingnya melawan tekanan deflasi yang kian meningkat.

China saat ini menghadapi tantangan besar dalam sektor konsumsi, dengan indeks harga konsumen yang mengalami penurunan tajam pada bulan Februari. Sementara itu, indeks harga produsen terus berada dalam wilayah kontraksi sejak Oktober 2022.

Meski demikian, kepala ekonom ING untuk China, Lynn Song, menilai bahwa rencana aksi ini menjadi sinyal bahwa pemerintah serius dalam menghadapi permasalahan ekonomi domestik.

“Meskipun rencana tersebut tampaknya tidak mengandung sesuatu yang baru, menetapkannya sebagai rencana aksi menandakan bahwa langkah-langkah konkret di tingkat lokal akan menyusul,” ujar Song.

Ia menambahkan bahwa kebijakan ini tidak akan membuahkan hasil dalam waktu singkat, tetapi tetap merupakan langkah yang menggembirakan.

Baca Juga :  Harga Emas Antam Terus Naik, Buyback Ikut Tembus Rp 2,144 Juta per Gram

“Seperti kata pepatah, Roma tidak dibangun dalam sehari, begitu pula BYD dan dominasi kendaraan listrik China. Banyak arahan kebijakan utama China memerlukan waktu untuk membuahkan hasil, dan dokumen ini menanam benih bagi pengembangan jangka panjang industri konsumen,” tambahnya.

Senada dengan itu, Kepala Eksekutif di perusahaan manajemen investasi Port Shelter Investment Management, Richard Harris, menegaskan bahwa China harus benar-benar fokus pada perbaikan ekonomi domestik.

“Otoritas bertekad untuk merangsang ekonomi, bertekad untuk membuatnya terus berjalan, dan bahkan jika kita melihat beberapa masalah dengan sisi ekspor ekonomi, mereka bertekad untuk menggerakkan ekonomi domestik. Karena mereka harus melakukannya,” tutur Harris.

Dengan berbagai kebijakan yang dirancang untuk memperkuat konsumsi domestik, China berupaya menjaga stabilitas ekonomi serta menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Keberhasilan dari rencana ini akan sangat bergantung pada implementasi di lapangan serta respons dari masyarakat terhadap berbagai kebijakan yang diterapkan.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel