Apa Itu Main Character Syndrome? Kenali Ciri-ciri dan Dampaknya bagi Kehidupan Sosial

character syndrome
Ilustrasi character syndrome. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Istilah main character syndrome atau sindrom karakter utama belakangan semakin sering muncul di media sosial. Fenomena ini menggambarkan seseorang yang memandang dirinya sebagai pusat dari setiap situasi, sementara orang lain dianggap hanya sebagai pelengkap dalam “cerita” kehidupannya.

Sekilas, pola pikir tersebut tampak mampu meningkatkan rasa percaya diri. Namun, para ahli mengingatkan bahwa jika berkembang secara berlebihan, kondisi ini dapat memengaruhi hubungan sosial dan menurunkan kemampuan seseorang untuk berempati terhadap orang lain.

Psikolog Susan Albers menjelaskan bahwa main character syndrome bukanlah diagnosis medis. Meski demikian, pola perilakunya nyata dan kini semakin mudah ditemukan, terutama di tengah budaya media sosial yang mendorong orang untuk terus menampilkan sisi terbaik kehidupannya.

Advertisement

Menurutnya, seseorang yang memiliki “energi karakter utama” cenderung merasa seolah-olah dirinya selalu menjadi sorotan. Perasaan itu kemudian memengaruhi cara berpakaian, berbicara, hingga membangun citra diri di hadapan orang lain.

Dalam beberapa kasus, seseorang sengaja membentuk persona tertentu agar terlihat menarik. Ada yang ingin dikenal sebagai pribadi humoris sehingga selalu berusaha menjadi pusat perhatian, sementara yang lain memilih tampil dramatis agar kisah hidupnya terasa lebih berkesan.

Percaya Diri Bisa Berubah Menjadi Sikap Egois

Memiliki keyakinan bahwa diri sendiri adalah tokoh utama dalam kehidupan sebenarnya tidak selalu berdampak negatif. Cara pandang tersebut bahkan dapat membantu seseorang lebih percaya diri, berani mencoba hal baru, dan lebih mudah menentukan arah hidup.

Baca Juga :  Mengapa Banyak Orang Sibuk Main Ponsel Saat Berinteraksi? Ini Faktornya

Namun, masalah muncul ketika fokus terhadap diri sendiri membuat seseorang mengabaikan kebutuhan maupun perasaan orang lain.

Misalnya, saat teman sedang menceritakan masalahnya, perhatian justru dialihkan untuk membahas pengalaman pribadi. Akibatnya, lawan bicara tidak merasa didengar karena setiap percakapan kembali berpusat pada satu orang.

Perilaku lain yang juga kerap muncul adalah kecenderungan melihat setiap kesulitan hidup sebagai bagian dari “alur cerita” yang harus dibuat dramatis. Cara pandang seperti ini dapat membuat seseorang lebih mengejar validasi dibanding benar-benar menyelesaikan persoalan yang dihadapi.

Susan Albers menilai perilaku tersebut memiliki kemiripan dengan sifat narsistik, terutama ketika seseorang terus mencari perhatian dan pengakuan dari lingkungan sekitarnya. Menurutnya, kondisi itu tidak jarang berakar dari rasa tidak percaya diri, kecemasan, atau perasaan tidak aman yang kemudian ditutupi dengan citra sebagai “tokoh utama”.

Media Sosial Dinilai Memperkuat Fenomena

Perkembangan media sosial disebut menjadi salah satu faktor yang memperkuat munculnya main character syndrome. Banyak orang terdorong untuk hanya menampilkan momen terbaik dalam hidupnya agar terlihat menarik di mata orang lain.

Kebiasaan membandingkan kehidupan dengan unggahan pengguna lain juga membuat sebagian orang merasa harus memiliki kehidupan yang tampak sempurna, estetik, atau layaknya adegan dalam film. Perlahan, validasi dari media sosial menjadi ukuran utama dalam membentuk kepercayaan diri.

Baca Juga :  Tanggal 3 Februari, Hari Apa Saja yang Diperingati di Seluruh Dunia?

Tanda-tanda Main Character Syndrome

Beberapa perilaku yang sering dikaitkan dengan main character syndrome antara lain:

  • Selalu mencari perhatian dan pengakuan dari orang lain.
  • Memiliki kecenderungan bersikap dramatis.
  • Merasa menjadi sosok paling penting dalam berbagai situasi.
  • Sulit memahami atau merasakan sudut pandang orang lain.
  • Menganggap setiap masalah sebagai bagian dari cerita hidup yang harus terlihat menarik.
  • Kurang mempertimbangkan dampak perilaku terhadap lingkungan sekitar.
  • Sering ingin menciptakan identitas baru demi membangun citra tertentu.
  • Mengubah sikap atau perilaku agar sesuai dengan gambaran diri yang ingin ditampilkan.

Dalam kondisi tertentu, seseorang bahkan dapat memandang orang lain hanya sebagai “NPC” atau karakter pendukung, istilah yang berasal dari dunia gim untuk menyebut tokoh yang tidak dikendalikan pemain. Cara pandang ini dinilai berisiko karena dapat mengurangi rasa empati dan kepedulian terhadap sesama.

Meski demikian, main character syndrome tidak selalu harus dipandang negatif. Selama seseorang tetap menyadari bahwa setiap orang memiliki cerita, perjuangan, dan perannya masing-masing, rasa percaya diri yang muncul justru dapat menjadi dorongan untuk berkembang. Yang perlu dihindari adalah ketika keinginan menjadi pusat perhatian berubah menjadi sikap egois yang mengabaikan keberadaan orang lain.***

Editor : Syafira

Sumber : CNNIndonesia.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel