TIMETODAY.ID, JAKARTA — Fenomena kesurupan massal yang sesekali terjadi di sekolah, pabrik, hingga lingkungan pesantren masih kerap memunculkan perdebatan. Sebagian masyarakat menghubungkannya dengan gangguan makhluk gaib, sementara lainnya menilai kondisi tersebut merupakan persoalan kesehatan mental.
Sejumlah ahli menilai fenomena itu dapat dipahami melalui pendekatan ilmiah tanpa harus bertentangan dengan keyakinan agama.
Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia, Prof. Agustino Zulys, menjelaskan bahwa fenomena yang dikenal masyarakat sebagai kesurupan memiliki penjelasan dalam ilmu psikologi modern.
Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan Dissociative Trance Disorder (DTD) atau gangguan disosiatif, yakni keadaan ketika seseorang mengalami perubahan kesadaran sehingga kehilangan kendali sementara terhadap perilakunya.
Pada beberapa kasus, individu yang mengalaminya juga dapat mengalami gangguan ingatan sesaat setelah kondisi tersebut berakhir.
Prof. Zulys mengatakan gangguan itu umumnya dipicu oleh tekanan psikologis yang berlangsung dalam waktu lama, seperti konflik batin, kecemasan, maupun stres yang tidak tersalurkan dengan baik.
“Berbagai penelitian menunjukkan bahwa individu yang mengalami kondisi disosiatif sering memiliki beban psikologis yang menumpuk sehingga mekanisme pertahanan diri muncul dalam bentuk disosiasi,” jelasnya.
Fenomena kesurupan yang terjadi secara bersamaan di suatu kelompok juga memiliki penjelasan tersendiri. Dalam psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai social contagion atau penularan sosial, yaitu proses ketika emosi dan respons seseorang memengaruhi orang lain yang berada dalam lingkungan yang sama.
Ketika satu individu mengalami kepanikan atau reaksi emosional yang kuat, orang-orang di sekitarnya dapat menjadi lebih sugestif sehingga respons serupa menyebar ke anggota kelompok lainnya. Kondisi ini dinilai lebih mudah terjadi di lingkungan yang memiliki tingkat tekanan atau stres yang sama, seperti sekolah maupun tempat kerja.
Meski demikian, Prof. Zulys menegaskan bahwa pendekatan ilmiah tidak serta-merta meniadakan keyakinan agama. Dalam ajaran Islam, keberadaan jin merupakan bagian dari akidah yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Namun, menurutnya, hal itu tidak berarti setiap peristiwa kesurupan dapat langsung disimpulkan sebagai gangguan makhluk gaib tanpa melalui pemeriksaan medis maupun psikologis.
Ia menambahkan, Islam juga mengajarkan pentingnya berikhtiar untuk mencari pengobatan dan pengetahuan. Karena itu, upaya medis, psikologis, maupun pendekatan spiritual seperti doa dan rukiah dapat berjalan berdampingan sesuai kebutuhan.
Prof. Zulys menilai masyarakat tidak perlu mempertentangkan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai keagamaan dalam memahami fenomena kesurupan. Menurutnya, kedua pendekatan tersebut dapat saling melengkapi sehingga penanganan terhadap individu yang mengalami kondisi tersebut dilakukan secara lebih menyeluruh dan bijaksana.
Pendekatan yang menggabungkan aspek psikologis, medis, serta spiritual diharapkan mampu mengurangi stigma terhadap orang yang mengalami gangguan disosiatif sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih mengedepankan pemahaman berdasarkan ilmu pengetahuan tanpa mengesampingkan nilai-nilai kepercayaan yang dianut.***
Editor : Syafira
Sumber : Okezone.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel







































