TIMETODAY.ID, JAKARTA — Pola asuh yang diterapkan orang tua tidak jarang dipengaruhi oleh pengalaman yang mereka alami saat masih anak-anak. Jika luka emosional di masa lalu belum terselesaikan, pola pengasuhan yang kurang sehat berpotensi kembali terulang kepada generasi berikutnya.
Fenomena ini dikenal sebagai toxic parenting, yakni pola pengasuhan yang dapat berdampak negatif terhadap perkembangan emosional, mental, maupun psikologis anak. Karena itu, penting bagi orang tua untuk mengenali tanda-tandanya dan mulai membangun pola asuh yang lebih sehat.
Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk memutus rantai toxic parenting.
1. Menyadari pola pengasuhan yang kurang sehat
Perubahan dimulai dari kesadaran diri. Orang tua perlu mengevaluasi cara mereka memperlakukan anak, misalnya apakah sering memberikan kritik berlebihan, terlalu mengontrol setiap keputusan anak, mengabaikan perasaannya, atau menggunakan rasa bersalah sebagai bentuk tekanan.
Dengan mengenali pola tersebut, orang tua memiliki kesempatan untuk mulai memperbaiki cara berinteraksi dengan anak.
2. Memberikan ruang bagi anak untuk berkembang
Anak membutuhkan kesempatan untuk belajar mengambil keputusan sesuai usianya. Memberikan kepercayaan kepada anak untuk mencoba, melakukan kesalahan, dan belajar dari pengalaman merupakan bagian penting dalam membangun kemandirian.
Selain itu, menghormati batasan pribadi dan privasi anak juga membantu mereka tumbuh menjadi individu yang lebih percaya diri dan bertanggung jawab.
3. Membangun komunikasi yang hangat
Hubungan yang sehat antara orang tua dan anak berawal dari komunikasi yang terbuka. Mendengarkan cerita anak tanpa terburu-buru menghakimi atau memotong pembicaraan dapat membuat mereka merasa dihargai.
Respons yang penuh empati ketika anak menyampaikan perasaan maupun kesulitannya juga membantu memperkuat ikatan emosional dalam keluarga.
4. Berdamai dengan luka masa lalu
Tidak sedikit orang tua yang tanpa sadar mengulang pola asuh yang dulu mereka terima dari keluarga. Pengalaman seperti sering dimarahi, dikritik, atau diabaikan dapat memengaruhi cara seseorang mengasuh anak ketika dewasa.
Karena itu, mengenali sumber emosi dan trauma masa lalu menjadi langkah penting agar orang tua mampu mengendalikan reaksi serta memberikan respons yang lebih bijaksana kepada anak.
5. Tidak ragu mencari bantuan profesional
Apabila perubahan terasa sulit dilakukan atau trauma masa lalu masih memengaruhi kehidupan sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog maupun konselor keluarga dapat menjadi pilihan.
Pendampingan profesional dapat membantu orang tua memahami akar persoalan sekaligus menemukan strategi pengasuhan yang lebih positif. Upaya ini bukan menunjukkan kelemahan, melainkan bentuk kepedulian untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak.
Dengan membangun pola asuh yang lebih sehat, orang tua tidak hanya membantu perkembangan emosional anak, tetapi juga menghentikan siklus toxic parenting agar tidak terus berulang pada generasi berikutnya.***
Editor : Syafira
Sumber : CNNIndonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel








































