Sering Membentak Anak? Ini 6 Dampak Psikologis yang Bisa Terjadi

Anak
Ilustrasi memarahi anak. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTAAnak-anak belajar mengenali emosi, berkomunikasi, dan memahami lingkungan melalui pengalaman yang mereka dapatkan setiap hari, terutama dari orang tua. Namun dalam situasi tertentu, seperti kelelahan atau tekanan yang tinggi, tidak sedikit orang tua yang meluapkan emosi dengan membentak anak.

Meski kerap dianggap sebagai cara mendisiplinkan, bentakan yang terjadi berulang kali dapat meninggalkan dampak psikologis yang tidak ringan. Para ahli menilai, kekerasan verbal dalam bentuk bentakan berpotensi memengaruhi perkembangan emosi dan kesehatan mental anak dalam jangka panjang.

Anak yang terbiasa menerima bentakan juga dapat memandang kemarahan dan suara keras sebagai cara yang wajar untuk menyelesaikan masalah. Karena itu, penting bagi orang tua memahami dampak yang mungkin timbul agar dapat menerapkan pola pengasuhan yang lebih sehat.

Advertisement

1. Memicu Stres dan Kecemasan

Bentakan dapat membuat tubuh anak berada dalam kondisi siaga terus-menerus. Mereka menjadi khawatir melakukan kesalahan dan takut kembali dimarahi.

Dalam kondisi seperti ini, hormon stres meningkat sehingga anak lebih mudah merasa cemas, tidak nyaman, dan kehilangan rasa aman di lingkungan rumah.

Baca Juga :  Bagaimana ABA Therapy Membantu Anak Autisme Mengembangkan Kemandirian

2. Mendorong Perilaku Agresif

Anak belajar banyak dari apa yang mereka lihat dan dengar. Ketika orang tua sering menggunakan nada tinggi saat berkomunikasi, anak bisa menganggap cara tersebut sebagai sesuatu yang normal.

Akibatnya, mereka berpotensi meniru perilaku tersebut dengan mudah marah, membentak orang lain, atau menunjukkan sikap agresif kepada teman dan anggota keluarga.

3. Membuat Anak Menutup Diri

Tidak semua anak merespons bentakan dengan perlawanan. Sebagian justru memilih diam dan menjauh.

Perasaan tidak dihargai atau tidak didengarkan dapat membuat anak enggan berbagi cerita kepada orang tuanya. Dalam jangka panjang, mereka mungkin lebih memilih mencari tempat bercerita kepada teman atau orang lain yang dianggap lebih memahami.

4. Menurunkan Kepercayaan Diri

Bentakan yang terus-menerus dapat membentuk pandangan negatif terhadap diri sendiri. Anak mungkin merasa dirinya selalu salah, tidak cukup baik, atau tidak mampu memenuhi harapan orang tua.

Perasaan tersebut dapat terbawa hingga dewasa dan memengaruhi kemampuan mereka dalam mengambil keputusan maupun menghadapi tantangan hidup.

5. Mengganggu Kemampuan Bersosialisasi

Baca Juga :  Komnas PA Sebut Kabupaten Bogor Zona Merah Kekerasan Anak

Pengalaman menerima perlakuan keras di rumah dapat berdampak pada cara anak berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

Sebagian anak menjadi sulit mengelola emosi, lebih mudah terlibat konflik, atau bahkan meniru pola komunikasi yang kasar saat berhubungan dengan orang lain. Kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hubungan sosial mereka di sekolah maupun lingkungan pergaulan.

6. Meningkatkan Risiko Gangguan Kesehatan Mental

Dampak yang paling serius dari bentakan berulang adalah meningkatnya risiko gangguan kesehatan mental. Anak yang sering mengalami kekerasan verbal memiliki kemungkinan lebih besar mengalami kecemasan, depresi, rendah diri, hingga perilaku menyakiti diri sendiri.

Pengalaman emosional yang terbentuk sejak kecil juga dapat memengaruhi cara mereka membangun hubungan saat dewasa.

Karena itu, komunikasi yang hangat dan penuh pengertian menjadi salah satu fondasi penting dalam tumbuh kembang anak. Membantu anak memahami kesalahan dengan bimbingan yang tepat akan jauh lebih efektif dibandingkan menanamkan rasa takut melalui bentakan.

Pada akhirnya, anak tidak hanya membutuhkan aturan, tetapi juga rasa aman, dukungan, dan kasih sayang untuk tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara emosional.***

Editor : Syafira

Sumber : CNNIndonesia.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel