Mengenal Perbedaan Bipolar dan Skizofrenia dari Gejala hingga Penyebabnya

bipolar dan skizofrenia
ilustrasi skizofrenia. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Gangguan bipolar dan skizofrenia sering kali dianggap sebagai kondisi yang sama karena sama-sama memengaruhi kesehatan mental seseorang. Padahal, keduanya merupakan gangguan yang berbeda, baik dari sisi gejala, pola perjalanan penyakit, maupun penanganannya.

Kesamaan gejala tertentu, terutama munculnya psikosis pada sebagian penderita bipolar, membuat banyak orang sulit membedakan kedua kondisi tersebut. Karena itu, diagnosis yang tepat menjadi langkah penting agar pasien mendapatkan terapi dan pendampingan yang sesuai.

Mengenal Gangguan Bipolar

Gangguan bipolar merupakan kondisi kesehatan mental yang ditandai oleh perubahan suasana hati secara ekstrem. Penderita dapat mengalami fase mania dan depresi yang muncul secara bergantian dalam periode tertentu.

Advertisement

Saat memasuki fase mania, seseorang biasanya merasa sangat berenergi, lebih percaya diri dari biasanya, aktif berbicara, hingga cenderung mengambil keputusan secara impulsif. Sebaliknya, ketika mengalami depresi, penderita dapat merasakan kesedihan mendalam, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, hingga kesulitan menjalani rutinitas sehari-hari.

Di antara kedua fase tersebut, sebagian penderita bipolar dapat menjalani masa stabil tanpa gejala yang signifikan.

Apa Itu Skizofrenia?

Berbeda dengan bipolar yang berpusat pada perubahan suasana hati, skizofrenia merupakan gangguan mental kronis yang ditandai oleh gangguan persepsi terhadap realitas.

Penderita skizofrenia sering mengalami psikosis, yaitu kondisi ketika seseorang kesulitan membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak.

Baca Juga :  Jangan Panik, Begini Cara Atasi Lemari Kayu Lembap dan Bau Tak Sedap

Gejala yang paling umum meliputi halusinasi, seperti mendengar suara atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada, serta delusi atau keyakinan yang tidak sesuai dengan kenyataan tetapi dipercaya secara kuat oleh penderitanya.

Selain itu, skizofrenia juga dapat memengaruhi cara berpikir, kemampuan berkonsentrasi, komunikasi, hingga fungsi sosial sehari-hari.

Perbedaan Utama Skizofrenia dan Bipolar

Meski sama-sama termasuk gangguan kesehatan mental serius, terdapat sejumlah perbedaan mendasar antara keduanya.

1. Gejala yang Paling Menonjol

Pada gangguan bipolar, perubahan suasana hati menjadi ciri utama yang paling terlihat. Penderita mengalami pergantian antara fase mania dan depresi yang dapat memengaruhi perilaku maupun aktivitas sehari-hari.

Sementara itu, skizofrenia lebih identik dengan gejala psikosis, seperti halusinasi dan delusi yang membuat penderitanya mengalami gangguan dalam memahami realitas.

2. Hubungan dengan Realitas

Penderita bipolar umumnya masih dapat kembali berfungsi normal ketika tidak sedang mengalami episode mania maupun depresi.

Sebaliknya, pada skizofrenia, gangguan persepsi terhadap realitas dapat berlangsung lebih lama dan sering kali memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk pekerjaan, pendidikan, dan hubungan sosial.

3. Pola Perjalanan Penyakit

Bipolar biasanya muncul dalam bentuk episode yang datang dan pergi. Gejala dapat membaik atau menghilang untuk sementara waktu sebelum kembali muncul.

Baca Juga :  Maliq & D'Essentials Hipnotis Penonton di Serenada Enchanting Valley Bogor

Sedangkan skizofrenia cenderung bersifat kronis dan membutuhkan pengobatan serta pendampingan jangka panjang untuk membantu mengendalikan gejala.

Apakah Bipolar Bisa Mengalami Psikosis?

Salah satu alasan kedua gangguan ini sering tertukar adalah karena sebagian penderita bipolar juga dapat mengalami gejala psikosis.

Kondisi tersebut biasanya muncul saat episode mania atau depresi berat. Namun, psikosis pada bipolar umumnya terjadi dalam periode tertentu dan bukan gejala utama penyakit.

Berbeda dengan skizofrenia yang menjadikan psikosis sebagai karakteristik utama dan lebih dominan dalam perjalanan penyakitnya.

Faktor Risiko yang Diduga Berperan

Hingga kini, penyebab pasti bipolar maupun skizofrenia belum sepenuhnya diketahui. Namun, para ahli menilai faktor genetik memiliki pengaruh yang cukup besar.

Risiko seseorang mengalami bipolar atau skizofrenia dapat meningkat apabila memiliki anggota keluarga dekat yang juga mengidap gangguan serupa.

Selain faktor keturunan, sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa faktor lingkungan dan pengalaman hidup tertentu kemungkinan turut berkontribusi terhadap munculnya kedua kondisi tersebut, meski mekanismenya masih terus dipelajari.

Memahami perbedaan bipolar dan skizofrenia penting untuk mengurangi kesalahpahaman yang masih banyak terjadi di masyarakat. Meski sama-sama memengaruhi kesehatan mental, kedua gangguan ini memiliki karakteristik yang berbeda dan memerlukan pendekatan diagnosis serta penanganan yang tidak sama.***

Editor : Syafira

Sumber : CNNIndonesia.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel