
TIMETODAY.ID, BOGOR – Nilai tukar rupiah yang melemah hingga menembus Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat membuat harga kedelai impor melonjak. Para pengrajin tempe di Kampung Ciluar, Desa Pasirlaja, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pun terpukul. Produksi mereka dipangkas dan ukuran tempe diperkecil demi mempertahankan kelangsungan usaha.
Harga kedelai impor naik dari Rp 10.000 menjadi Rp 11.500 per kilogram atau sekitar 15 persen dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan itu belum menunjukkan tanda-tanda mereda, sementara harga jual tempe di pasar tradisional masih bertahan di angka lama.
Akibat lonjakan harga bahan baku tersebut, kapasitas produksi harian para pengrajin turun signifikan. Jika sebelumnya mampu mengolah enam hingga tujuh kuintal kedelai per hari, kini hanya sekitar lima kuintal yang bisa diproduksi.
Penyesuaian tidak berhenti di situ. Ukuran tempe yang dijual ke konsumen pun diperkecil tanpa mengubah harga. Tempe ukuran besar tetap dijual Rp 6.000 dan ukuran kecil Rp 5.000, namun dengan porsi yang lebih kecil dibanding sebelumnya.
“Kalau dulu harga kedelai sekitar Rp 10.000 per kilogram, sekarang sudah mencapai Rp 11.500. Tentu sangat berpengaruh terhadap biaya produksi. Biasanya sehari bisa enam sampai tujuh kuintal, sekarang paling sekitar lima kuintal,” kata Japar, salah satu pengrajin tempe di kawasan tersebut, Rabu (10/6/2026).
Margin keuntungan pun semakin menipis. Sejumlah pelaku usaha tempe berskala kecil yang baru merintis bahkan terpaksa menghentikan produksi karena tidak sanggup menanggung beban biaya bahan baku yang terus membengkak.
“Keuntungan sekarang sangat tipis. Banyak pengusaha kecil yang kesulitan bertahan karena modal terus tergerus kenaikan harga kedelai,” ujar Japar.
Para pengrajin berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga kedelai impor. Mereka juga meminta ada solusi jangka pendek agar industri tempe skala rumahan tidak terus terpuruk akibat volatilitas nilai tukar.
“Harapan kami harga kedelai bisa turun lagi. Saat ini harga jual belum naik, hanya ukuran tempe yang dikurangi. Mudah-mudahan ada solusi agar usaha tempe tetap bisa bertahan,” tutup Japar.
Editor : B. Supriyadi
Wartawan : Amelia Azizah
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel

































