Orang Tua Wajib Tahu, Begini Cara Mempersiapkan Anak Masuk SD Menurut Ahli

SD
ilustrasi anak berangkat sekolah. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 kembali menyoroti aturan masuk sekolah dasar (SD), terutama terkait larangan tes membaca, menulis, dan berhitung atau calistung bagi calon siswa baru.

Aturan tersebut tercantum dalam Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Permendikdasmen Nomor 3 Tahun 2025 yang menegaskan sekolah tidak diperbolehkan melakukan tes calistung maupun bentuk seleksi akademik lainnya untuk penerimaan murid SD.

Pakar pendidikan Bukik Setiawan menilai, penerimaan siswa SD memang seharusnya tidak didasarkan pada kemampuan akademik anak. Menurutnya, yang lebih penting adalah memahami kesiapan perkembangan anak secara menyeluruh melalui asesmen psikologis.

Advertisement

Namun, asesmen tersebut bukan untuk menentukan diterima atau tidaknya seorang anak di sekolah. Asesmen dilakukan agar sekolah memahami profil perkembangan anak sejak awal sehingga dapat memberikan pendampingan yang sesuai.

“Yang diukur mencakup kemampuan regulasi diri, perkembangan sosial-emosional, kemampuan bahasa dan komunikasi, serta kematangan motorik. Kemampuan membaca, menulis, berhitung bukan prasyarat masuk, karena itu justru dipelajari di SD,” jelas Bukik.

Baca Juga :  Bupati Bogor Lepas School Trip ke Enam Desa Wisata, Tekankan Edukasi dan Pelestarian Budaya

Ia menekankan, kesiapan masuk SD tidak hanya diukur dari kemampuan akademik, melainkan dari kematangan anak dalam menghadapi lingkungan belajar yang lebih terstruktur.

Menurut Bukik, hal terpenting yang perlu dilakukan orang tua sebelum anak masuk SD bukanlah memberikan les calistung secara intensif. Persiapan terbaik justru berasal dari pola pengasuhan yang mendukung perkembangan fisik, emosional, sosial, dan kognitif anak secara seimbang.

Anak, kata dia, perlu dibiasakan bermain, berinteraksi dengan teman sebaya, belajar menyelesaikan konflik kecil, hingga terbiasa mendengar cerita dan berdiskusi dengan orang tua.

“Ia punya ruang bermain bebas, belajar bertanggung jawab, terbiasa bercakap-cakap, bertanya, serta mendapatkan cukup aktivitas fisik dan kualitas tidur yang baik,” ujarnya.

Bukik juga mengingatkan, banyak orang tua terlalu fokus mengejar kemampuan akademik sejak dini hingga melupakan fondasi sosial dan emosional anak. Padahal, kemampuan tersebut justru menjadi bekal penting dalam proses belajar jangka panjang.

Baca Juga :  Dari Hobi Jadi Uang: 10 Cara Kreatif Menghasilkan Cuan dari Aktivitas Favoritmu

“Fondasi sosial-emosional yang kuat akan lebih menentukan apakah anak tumbuh menjadi pelajar yang berdaya,” katanya.

Di sisi lain, Bukik menilai proses penerimaan siswa SD sebaiknya sepenuhnya dikelola pemerintah daerah melalui dinas pendidikan, bukan sekolah secara mandiri. Dengan sistem tersebut, semua anak yang memenuhi syarat usia dapat diterima dan didistribusikan ke sekolah negeri maupun sekolah swasta yang bekerja sama dengan pemerintah.

Ia menyebut pendekatan itu dapat mengurangi potensi diskriminasi maupun seleksi berdasarkan kemampuan akademik anak.

“Pertanyaan utama orang tua bukan lagi apakah sekolah mau menerima anaknya, tetapi apakah anak sudah siap menghadapi lingkungan belajar yang lebih terstruktur. Kesiapan itu bukan soal pintar atau tidak, melainkan kematangan perkembangan secara menyeluruh,” tutupnya.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel