MTI Sindir Menteri PPPA: Pindah Gerbong KRL Bukan Solusi Keselamatan

MTI
Dewan Penasihat MTI, Djoko Setijowarno. FOTO : IST.

TIMETODAY.ID, BOGOR – Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) mengkritik usulan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, yang menyarankan pemindahan posisi gerbong khusus perempuan pada rangkaian KRL ke bagian tengah. Usulan itu dinilai tidak menyentuh akar persoalan keselamatan transportasi publik.

Dewan Penasihat MTI, Djoko Setijowarno, secara tegas menolak gagasan tersebut sebagai solusi yang memadai. Ia bahkan menyindir, jawaban semacam itu terlalu sederhana untuk ukuran seorang menteri.

“Anak SD juga bisa menjawab seperti itu. Itu tidak menyelesaikan masalah,” ujar Djoko dalam keterangan tertulisnya, Kamis (30/4/2026).

Advertisement
Baca Juga :  Pemkab Bogor Tampilkan Dua Inovasi Unggulan di IGA 2025

Djoko menilai, Menteri PPPA semestinya mendorong kolaborasi lintas kementerian, khususnya dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, untuk memasukkan pendidikan keselamatan berlalu lintas ke dalam kurikulum sekolah sejak usia dini.

“Mestinya Menteri PPPA minta mendikdasmen bikin kurikulum keselamatan bertransportasi. Anak-anak sejak usia dini harus paham akan keselamatan berlalu lintas,” kata akademisi Program Studi Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata itu.

Menurut Djoko, pendidikan keselamatan yang dimaksud bukan sekadar pengenalan rambu lalu lintas, melainkan pembentukan karakter, empati, dan tanggung jawab sebagai pengguna ruang publik. Ia mencontohkan Belanda yang mewajibkan ujian praktik bersepeda bagi anak-anak, serta Jepang yang menanamkan etika berlalu lintas sebagai bagian dari pendidikan karakter sejak dini.

Baca Juga :  MTI Minta Pemerintah Perluas Manfaat Mobil Nasional untuk Rakyat

Djoko mengingatkan, dominasi faktor kesalahan manusia dalam kecelakaan lalu lintas tidak akan berkurang hanya dengan pembenahan teknis pada sarana angkutan.

“Sudah saatnya kita memandang pendidikan keselamatan lalu lintas bukan sebagai beban kurikulum tambahan, melainkan sebagai investasi nyawa bagi generasi masa depan,” katanya.

Editor : B. Supriyadi

Wartawan : Amelia Azizah

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel