Armada Kemanusiaan Gaza Dicegat Israel di Perairan Internasional, Kontak 11 Kapal Terputus

Gaza
Angkatan Laut Israel mencegat kapal-kapal GSF di perairan internasional, dekat Pulau Kreta. Foto: AP

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Di tengah meningkatnya tensi konflik di Timur Tengah, misi kemanusiaan menuju Gaza kembali menjadi sorotan. Penyelenggara Global Sumud Flotilla (GSF) II melaporkan armadanya diadang oleh militer Israel saat berada di perairan internasional, Rabu (29/4/2026) malam.

Insiden itu terjadi di dekat Pulau Kreta, Yunani, ketika kapal-kapal bantuan yang membawa aktivis dari berbagai negara tengah berlayar menuju Jalur Gaza.

Dalam keterangan resminya, pihak GSF menyebut sejumlah kapal dikepung dari jarak dekat hingga akhirnya mereka kehilangan kontak dengan 11 armada.

Advertisement

“Angkatan Laut Israel mengepung konvoi kami di perairan internasional dan mengarahkan senjata ke arah para aktivis,” demikian pernyataan GSF.

Baca Juga :  Detik-detik Prabowo Subianto Marah Besar di KTT 11 Developing Eight

Mereka menegaskan, aksi tersebut tidak akan menghentikan upaya solidaritas global terhadap warga Gaza.

“Suara kemanusiaan tidak bisa dibungkam,” lanjut pernyataan itu.

Menurut laporan, beberapa kapal bahkan ditempeli oleh pasukan bersenjata sebelum komunikasi terputus. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan para relawan yang berada di dalam kapal.

Di sisi lain, media Israel melaporkan bahwa operasi tersebut merupakan bagian dari upaya mencegah armada menembus blokade menuju Gaza. Sejumlah sumber militer juga menyebut bahwa ini menjadi salah satu operasi terjauh yang dilakukan Angkatan Laut Israel terhadap misi serupa.

Baca Juga :  DLH Kabupaten Bogor Siapkan Dua Skema Pengolahan Sampah Galuga

GSF II sendiri merupakan ekspedisi kemanusiaan berskala besar yang diberangkatkan dari Barcelona, Spanyol. Misi ini melibatkan sekitar 70 kapal dengan hampir 1.000 peserta dari 70 negara—jumlah yang meningkat signifikan dibandingkan misi sebelumnya pada 2025.

Pihak penyelenggara kini mendesak komunitas internasional untuk turun tangan. Mereka meminta negara-negara asal para aktivis ikut memberikan perlindungan serta menuntut pertanggungjawaban atas insiden tersebut.

“Ini bukan hanya tentang satu armada, tetapi tentang akses kemanusiaan yang harus dilindungi,” tegas GSF.***

Editor : Syafira

Sumber : iNews.id

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel