
TIMETODAY.ID, JAKARTA — Getaran belum benar-benar reda di Bitung. Beberapa hari setelah gempa besar bermagnitudo 7,6 mengguncang wilayah tersebut, aktivitas seismik masih terus terasa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, hingga Senin (6/4/2026) pagi, telah terjadi 1.108 gempa susulan.
Plt Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, menyebutkan bahwa dari jumlah tersebut, sebanyak 24 gempa di antaranya dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Hingga pagi ini, tercatat 1.108 gempa susulan dan 24 di antaranya dirasakan warga,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Gempa utama yang terjadi pada Kamis (2/4/2026) itu dikategorikan sebagai gempa megathrust. Dengan kedalaman sekitar 33 kilometer, gempa ini tergolong dangkal dan berpusat di laut, sekitar 129 kilometer tenggara Bitung.
Menurut BMKG, sumber gempa berasal dari aktivitas subduksi di Laut Maluku, tepatnya di kawasan Punggungan Mayu. Mekanisme pergerakannya berupa sesar naik (thrust fault), jenis patahan yang dikenal memiliki potensi tinggi memicu tsunami.
“Karena mekanismenya sesar naik, potensi tsunami memang lebih besar dibandingkan sesar mendatar,” jelas Rahmat.
Tak lama setelah gempa utama terjadi, BMKG langsung mengeluarkan peringatan dini tsunami. Hasil pengamatan alat tide gauge menunjukkan adanya kenaikan muka air laut di sejumlah wilayah di Sulawesi Utara.
Di beberapa titik, tinggi gelombang tercatat bervariasi. Wilayah Minahasa Utara mengalami kenaikan hingga 0,75 meter, sementara Belang mencapai 0,68 meter. Di lokasi lain seperti Halmahera Barat, Bitung, dan Sidangoli, tinggi gelombang berkisar antara 0,20 hingga 0,35 meter.
Meski tren gempa susulan terus dipantau, BMKG mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah. Aktivitas seismik masih mungkin terjadi, terutama di wilayah pesisir yang berdekatan dengan sumber gempa.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa ancaman gempa belum sepenuhnya berlalu. Kewaspadaan, terutama terhadap potensi gempa susulan dan dampak lanjutan seperti tsunami, tetap menjadi kunci bagi keselamatan warga di kawasan terdampak.***




































