TIMETODAY.ID, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan konflik antara AS dan Iran diperkirakan dapat berakhir dalam waktu dekat, sekitar dua hingga tiga pekan. Namun di balik optimisme tersebut, tekanan terhadap pasar energi global belum menunjukkan tanda mereda.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya setelah serangan militer yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran, telah mengguncang rantai pasok energi dunia. Situasi semakin kompleks ketika Selat Hormuz—jalur vital pengiriman minyak—terganggu, memicu lonjakan harga secara signifikan.
Sepanjang Maret 2026, harga minyak mentah Brent melonjak tajam hingga lebih dari 60 persen, menjadi kenaikan bulanan tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Hingga awal April, harga masih bertahan tinggi, dengan Brent diperdagangkan di kisaran USD 107 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada sedikit di atas USD 106 per barel.
“Walaupun ada sinyal konflik akan mereda, pasar masih dibayangi kekhawatiran terhadap pasokan yang belum stabil,” demikian pandangan analis energi terkait kondisi tersebut.
Kenaikan harga minyak ini tidak lepas dari kekhawatiran bahwa konflik bisa berlangsung lebih lama dari perkiraan, sekaligus menekan konsumsi global akibat harga energi yang mahal. Di sejumlah negara, lonjakan harga mulai berdampak pada pola konsumsi masyarakat.
“Jika pasokan dari Timur Tengah tetap terbatas dalam waktu lama, permintaan bahan bakar seperti bensin dan solar berpotensi menurun, terutama di negara dengan sensitivitas harga tinggi,” tulis analis Goldman Sachs dalam laporannya.
Dampak penurunan permintaan bahkan mulai terasa di beberapa sektor industri, termasuk penerbangan dan petrokimia di kawasan Asia yang cukup bergantung pada stabilitas harga energi.
Sementara itu, analis energi dari TP ICAP, Scott Shelton, memperkirakan konflik yang berlangsung sejauh ini telah mengganggu pasokan hingga ratusan juta barel minyak, termasuk produk turunannya seperti bahan bakar jet dan solar.
“Jika konflik benar-benar selesai dalam beberapa minggu dan jalur distribusi kembali normal, pasar masih memiliki peluang untuk pulih dari tekanan ini,” ujarnya.
Meski demikian, ketidakpastian tetap menjadi faktor utama. Pasar minyak global kini berada dalam posisi menunggu—antara harapan konflik segera berakhir dan kekhawatiran dampaknya yang bisa bertahan lebih lama dari yang diperkirakan.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































