TIMETODAY.ID, JAKARTA — Fenomena “Japan Effect” tengah ramai diperbincangkan di media sosial. Tren ini muncul sebagai bentuk sindiran terhadap citra Jepang yang dinilai terlalu diromantisasi, terutama dalam konten-konten digital yang menggambarkan pengalaman wisata secara berlebihan.
Di tengah popularitasnya, Jepang bahkan dinobatkan sebagai destinasi favorit dunia dalam ajang Condé Nast Traveler Readers’ Choice Awards 2025. Negara tersebut mencatat lonjakan kunjungan hingga 42,7 juta wisatawan pada tahun lalu, didorong antara lain oleh melemahnya nilai yen yang membuat biaya perjalanan lebih terjangkau.
Namun di balik angka tersebut, lonjakan wisatawan juga memicu persoalan overtourism. Sejumlah kota populer seperti Kyoto mulai merasakan dampaknya, dengan warga lokal mengeluhkan kepadatan turis yang dianggap mengganggu kenyamanan sehari-hari.
Fenomena “Demam Jepang” turut diperkuat oleh maraknya konten media sosial yang menampilkan sisi estetika Jepang secara berlebihan. Banyak wisatawan membagikan video dengan nuansa anime, filter warna lembut, hingga narasi perjalanan yang tampak sempurna, seolah menggambarkan pengalaman ideal tanpa cela.
Konten semacam ini kemudian memicu reaksi balik. Sejumlah warganet menilai gambaran tersebut tidak realistis dan cenderung dibuat-buat. YouTuber asal Prancis, Rocky Lozembi, menyebut tren “Japan Effect” sebagai bentuk kritik terhadap stereotip Jepang yang terlalu “imut” dan dipuja secara berlebihan.
Popularitas budaya pop Jepang, termasuk anime dan film, juga dinilai berperan dalam membentuk ekspektasi wisatawan. Banyak turis datang dengan harapan menemukan suasana seperti dalam layar, termasuk mengunjungi lokasi-lokasi yang menjadi latar cerita.
Namun, sejumlah pengalaman di lapangan menunjukkan realitas yang tak selalu seindah ekspektasi. Salah satu isu yang mencuat adalah soal kebersihan. Anggapan bahwa jalanan Jepang sangat bersih hingga bisa dilalui tanpa alas kaki mulai dipertanyakan.
Beberapa kreator konten bahkan mencoba menguji hal tersebut secara langsung. Hasilnya menunjukkan bahwa jalanan tetap memiliki kotoran, sebagaimana kota besar lainnya. Pasangan kreator asal Amerika Serikat, The Hitobito, menyebut Jepang memang bersih, namun tidak sampai pada tingkat yang sering digambarkan di media sosial.
Ledakan pariwisata yang dipicu citra ideal ini juga mulai berdampak pada kebijakan lokal. Dalam beberapa kasus, aktivitas wisata bahkan dibatasi, termasuk pembatalan acara seperti festival bunga sakura di sejumlah wilayah.
Pengamat akademik dari Waseda University, Seio Nakajima, menilai Jepang memang dikenal dengan perhatian tinggi terhadap detail dan estetika. Namun, menurutnya, hal tersebut hanya sebagian dari realitas yang ada.
Fenomena “Japan Effect” pada akhirnya menjadi pengingat bahwa di balik visual yang indah dan narasi yang memikat, setiap destinasi tetap memiliki sisi lain yang sering luput dari sorotan.***
Editor : Syafira
Sumber : CNNIndonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel







































