
TIMETODAY.ID, BOGOR – Kepala BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), Prof. Arif Satria, mendorong bangsa Indonesia untuk menjadikan tekanan krisis geopolitik dan lingkungan sebagai momentum melahirkan inovasi teknologi. Seruan itu ia sampaikan dalam khotbah salat Idulfitri tingkat Kota Bogor di Lapangan Reintdwart Avenue, kawasan Kebun Raya Bogor, Sabtu (21/3/2026).
“Setiap krisis itu di baliknya ada hikmah. Kita harus berpikir positif dan terdorong untuk menciptakan inovasi dan teknologi baru guna menyelesaikan masalah, baik itu masalah lingkungan, ekonomi, maupun sosial,” ujar Arif kepada wartawan seusai salat.
Dalam khotbahnya, Arif mengangkat tujuh nilai masyarakat wasathiyah atau moderat sebagai kerangka membangun Indonesia yang maju. Ketujuh nilai itu adalah tawazun (keseimbangan), i’tidal (keadilan), al-islah (pembaruan), al-qudwah (keteladanan), al-muwathanah (cinta tanah air), asy-syura (musyawarah), dan tasamuh (toleransi).
Di antara tujuh nilai tersebut, prinsip al-islah atau pembaruan mendapat penekanan khusus. Arif menilai semangat pembaruan menjadi yang paling mendesak untuk diinternalisasi di tengah ketidakpastian global yang kian kompleks.
“Tujuh nilai ini perlu kita internalisasikan sebagai modal untuk membangun masyarakat, karena kita punya tanggung jawab besar untuk memajukan Indonesia,” kata Guru Besar Institut Pertanian Bogor itu.
Salat Id berlangsung khidmat dengan imam KH TB. Muhyidin, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bogor. Ribuan warga mulai memadati kawasan Kebun Raya sejak pukul 05.30 WIB.
Arif tiba di lokasi sekitar pukul 06.00 WIB, disusul Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim. Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto hadir sekitar pukul 06.37 WIB.
Editor : B. Supriyadi
Wartawan : B. Supriyadi
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































