
TIMETODAY.ID, BOGOR – Siang belum sepenuhnya condong ke barat ketika anak-anak itu mulai berdatangan. Mereka melangkah masuk ke Gang Nangka, RT 01/02, Desa Karang Asem Timur, Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, ada yang menggandeng tangan ibu, ada yang berlari kecil mendahului rombongan. Wajah-wajah itu menyimpan rindu yang tak selalu bisa diungkapkan dengan kata.
Jumat, 13 Maret 2026. Yayasan Cahaya Piradita Kaning menggelar santunan untuk 1.500 anak yatim dan dhuafa. Sebuah angka yang bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari luasnya beban yang harus ditanggung sebagian warga di wilayah itu.
Area acara memadati gang dengan riuh yang hangat. Lantunan doa berpadu dengan suara percakapan warga, sementara alim ulama, para asatidz dan asatidzah, serta tokoh masyarakat setempat duduk berdampingan, melebur tanpa sekat.
Ketua Yayasan Cahaya Piradita Kaning, Sony Priyanto, terpaku di antara kerumunan. Baginya, hari itu bukan perayaan yayasan semata. Ini adalah janji yang terus diperbarui.
“Yayasan ini memang diperuntukkan bagi anak-anak yatim dan kaum dhuafa. Kami juga memiliki sekolah gratis bagi mereka yang tidak mampu,” ujarnya.
Sekolah gratis. Dua kata yang terdengar sederhana, namun maknanya dalam bagi keluarga yang setiap hari bergulat dengan keterbatasan.
Sony bercerita bahwa kegiatan sosial semacam ini bukan insidental. Ia telah menjadi denyut nadi yayasan selama puluhan tahun, mengalir pekan demi pekan, tanpa perlu tunggu momen besar.
“Ini emang rutinitas kami. Kalau malam Jumat, malam Senin, Jumat berkah ada. Alhamdulillah, sudah sering berjalan santunannya,” katanya.
Tausiah KH Asep Mubarok mengisi sela-sela acara, menenangkan sekaligus menguatkan. Suaranya mengalun di antara pohon-pohon dan atap rumah warga, mengingatkan bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada tangan yang menengadah dan tangan yang terulur.
Acara ini juga sekaligus menjadi tasyakuran yayasan. Rasa syukur yang tidak dirayakan dengan kemewahan, melainkan dengan kehadiran nyata di tengah mereka yang membutuhkan.
Ketika langit mulai memudar ke kuning sore, anak-anak itu satu per satu meninggalkan Gang Nangka dengan bawaan di tangan. Namun yang mereka bawa bukan semata materi, melainkan perasaan bahwa mereka tidak sendirian.
Dan untuk sebuah yayasan yang telah berdiri puluhan tahun, mungkin itulah ukuran keberhasilan yang sesungguhnya.
Editor : B. Supriyadi
Wartawan : Amelia Azizah
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































