
TIMETODAY.ID, WASHINGTON – Sebuah pesawat pengisi bahan bakar udara KC-135 Stratotanker milik Angkatan Udara Amerika Serikat jatuh di Irak barat, Jumat (13/3/2026), menewaskan seluruh enam awaknya. Pesawat yang dirancang pada era 1960-an itu sedang mengemban misi mendukung Operasi Epic Fury, kampanye udara AS yang menyasar Iran. Penyebabnya masih misteri.
Komando Pusat AS (CENTCOM) membenarkan kecelakaan tersebut, namun secara resmi menampik dua kemungkinan paling lazim dalam kecelakaan pesawat militer di zona konflik aktif. Penyebab pasti masih dalam penyelidikan intensif.
“Informasi lebih lengkap akan diumumkan seiring perkembangan temuan,” tulis pernyataan resmi CENTCOM, tanpa merinci lebih jauh.
Pesawat Kedua Mendarat Darurat di Israel
Insiden melibatkan dua pesawat di wilayah udara yang disebut militer AS sebagai zona “bersahabat”. Satu pesawat berhasil mendarat darurat, dan Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, mengonfirmasi melalui media sosial bahwa pendaratan itu berlangsung di wilayah Israel. Satu pesawat lainnya, yang membawa enam kru tidak seberuntung itu.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyampaikan belasungkawa dalam konferensi pers, Sabtu (14/3/2026).
“Perang adalah neraka dan penuh dengan kekacauan,” ujarnya, dikutip AP.
Hegseth menyebut para kru yang gugur sebagai pahlawan yang berkorban dalam situasi berbahaya. Namun pernyataan itu tidak menjawab pertanyaan mendasar yang kini beredar di kalangan pengamat militer: mengapa dua pesawat pendukung berada dalam situasi kritis di wilayah udara bersahabat hingga salah satunya jatuh?
Armada Tua di Medan Perang Baru
KC-135 Stratotanker, yang mengadopsi struktur rangka Boeing 707 telah mengabdi lebih dari enam dekade. Sebagian besar unit yang kini aktif beroperasi diproduksi pada era 1960-an. Meski terus diperbarui secara teknologi, usia armada ini memantik kekhawatiran serius soal keandalan di tengah operasi intensitas tinggi.
Proses transisi ke penerus KC-135, yakni KC-46A Pegasus, berjalan jauh lebih lambat dari jadwal. Kondisi ini memaksa armada tua terus menanggung beban operasional yang kian berat, termasuk mendukung misi tempur jarak jauh ke wilayah Iran.
Para analis militer mencatat bahwa pesawat tanker secara doktrin beroperasi di zona belakang, jauh dari jangkauan pertahanan udara musuh. Namun semakin dalam jet tempur harus menerobos wilayah Iran, semakin jauh pula tanker harus mengikuti — dan semakin besar risiko yang ditanggung kru pendukung.
Kematian enam kru KC-135 menambah daftar korban AS dalam Operasi Epic Fury yang dimulai akhir Februari 2026. Hingga kini, sedikitnya 13 anggota militer AS telah tewas dalam operasi tersebut tujuh di antaranya gugur dalam pertempuran langsung, sementara sekitar 140 personel lain dilaporkan mengalami luka-luka.
Sejarah mencatat KC-135 pernah terlibat sejumlah kecelakaan fatal, termasuk tabrakan udara di Spanyol pada 1966. Kini, dengan konflik yang belum menunjukkan tanda mereda dan tuntutan operasional yang terus meningkat, tekanan pada armada tanker tua AS diprediksi masih akan terus membesar.






































