
TIMETODAY.ID, BOGOR – Aroma harum kelapa bakar menyeruak dari tungku arang, menandai tibanya bulan Ramadan. Di balik asap tipis, kue sagon bertekstur renyah itu menunggu untuk disajikan, jajanan sederhana yang telah menemani umat Muslim berbuka puasa sejak puluhan tahun silam.
Sagon, atau sebagian orang menyebutnya “sagoe”, konon mendapat namanya dari bahan utama yang digunakan, tepung sagu atau tepung beras ketan. Dicampur dengan parutan kelapa setengah tua dan gula pasir, adonan sederhana ini kemudian dicetak bulat pipih lalu dipanggang hingga matang. Kelapa setengah tua dipilih bukan tanpa alasan, teksturnya yang pas menghasilkan cita rasa gurih yang menyatu sempurna dengan manisnya gula.
Yang membuat sagon istimewa adalah cara memasaknya. Secara turun-temurun, kue ini dipanggang menggunakan anglo berisi arang atau kayu bakar. Metode tradisional inilah yang memberikan aroma khas harum kelapa berpadu asap arang yang tak bisa ditiru oleh oven modern.
Di Wonosobo, misalnya, ada penjual sagon legendaris yang sudah mempertahankan tradisi ini sejak tahun 1960-an. Hingga kini, mereka masih setia dengan tungku arang, menjaga keaslian rasa yang telah akrab di lidah pelanggan setia mereka.
Setiap menjelang Ramadan, warung-warung kue di pasar tradisional mulai ramai menjajakan sagon. Kue mungil berwarna kecokelatan ini seolah menjadi penanda bahwa bulan suci sudah tiba. Rasanya yang manis-gurih, dengan tekstur yang “meleleh” di mulut, menjadikannya teman berbuka yang sempurna setelah seharian berpuasa.
Bukan hanya soal rasa, kepraktisan sagon juga menjadi alasan kue ini bertahan hingga kini. Tahan lama, bisa disimpan berhari-hari bahkan berbulan-bulan dalam wadah kedap udara, sagon cocok dijadikan stok camilan selama Ramadan. Saat Idul Fitri tiba, kue ini pun tak pernah absen di meja tamu. Dihidangkan bersama kue-kue lebaran lainnya, sagon mengingatkan kita pada kesederhanaan yang bermakna.
Menariknya, meski dianggap jajanan jadul, sagon justru mengalami “kenaikan kasta”. Kini, kue tradisional ini tidak hanya dijual di pasar-pasar tradisional, tetapi juga di toko oleh-oleh modern sebagai bagian dari warisan kuliner Nusantara. Memang, banyak produsen kini menggunakan oven demi efisiensi. Namun, metode bakar arang tetap digemari oleh para penikmat sejati, karena aromanya yang lebih harum dan nostalgia yang dibawanya.
Di balik kesederhanaan resepnya, sagon menyimpan filosofi mendalam. Kue ini merepresentasikan kekayaan lokal kita, kelapa dan ketan yang melimpah di Nusantara, diolah dengan penuh kesabaran. Seperti tradisi yang dijaga turun-temurun, sagon mengajarkan kita untuk menghargai warisan leluhur, bahwa hal-hal sederhana, jika dijaga dengan baik, akan terus bermakna dari generasi ke generasi.
Maka, saat kita menggigit sagon di sore hari Ramadan ini, kita tak hanya merasakan manisnya gula atau gurihnya kelapa. Kita juga merasakan kehangatan tradisi yang telah menemani umat Muslim berbuka puasa sejak puluhan tahun lalu, sebuah kearifan lokal yang patut kita lestarikan.
Editor : B. Supriyadi
Sumber : wikipedia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel







































