
TIMETODAY.ID, JAKARTA — Badai salju besar yang melanda sebagian wilayah Amerika Serikat memaksa Presiden Donald Trump menetapkan status darurat federal. Cuaca musim dingin ekstrem tersebut menyebabkan pemadaman listrik massal, mengacaukan transportasi udara, dan menimbulkan ancaman serius bagi keselamatan ratusan juta warga.
Badai musim dingin yang oleh Trump disebut sebagai “bersejarah” ini berdampak luas di berbagai negara bagian.
Lebih dari satu juta pelanggan dilaporkan kehilangan aliran listrik, sementara aktivitas penerbangan lumpuh akibat pembatalan lebih dari 10.000 jadwal penerbangan. Salju tebal disertai hujan es membuat mobilitas warga nyaris terhenti di sejumlah wilayah.
Sebagai respons atas kondisi tersebut, Trump menyetujui penetapan keadaan darurat federal setelah hampir 20 negara bagian serta Distrik Columbia lebih dulu mengumumkan status darurat cuaca.
“Kami akan terus memantau dan tetap berhubungan dengan semua negara bagian yang berada di jalur badai ini. Tetap aman dan tetap hangat,” tulis Trump melalui akun Truth Social miliknya.
Badan Layanan Cuaca Nasional (National Weather Service/NWS) memperkirakan badai musim dingin ini akan memengaruhi sekitar dua pertiga wilayah timur Amerika Serikat dan berpotensi berlangsung sepanjang pekan.
Suhu udara anjlok jauh di bawah titik beku, menciptakan kondisi berbahaya bagi perjalanan darat maupun udara.
Berdasarkan data PowerOutage, hingga Minggu siang waktu setempat, sebanyak 1.005.641 pelanggan mengalami pemadaman listrik. Negara bagian Tennessee tercatat sebagai wilayah dengan dampak terparah, disusul Mississippi, Texas, Louisiana, Kentucky, Georgia, Virginia, dan Alabama.
“Ini adalah badai yang unik karena cakupannya sangat luas,” kata pakar meteorologi NWS, Allison Santorelli.
Menurut Santorelli, sekitar 213 juta warga Amerika Serikat saat ini berada di bawah peringatan cuaca musim dingin. Badai tersebut membentang sejauh kurang lebih 2.000 mil, mulai dari New Mexico hingga wilayah New England.
Sektor penerbangan menjadi salah satu yang paling terdampak. Situs pelacakan FlightAware melaporkan lebih dari 10.000 penerbangan dibatalkan, sementara sekitar 8.000 penerbangan lainnya mengalami penundaan.
Sejumlah maskapai besar Amerika Serikat mengimbau penumpang untuk terus memantau informasi penerbangan karena perubahan jadwal dapat terjadi sewaktu-waktu.
NWS juga mengingatkan bahwa akumulasi es tebal berpotensi memicu pemadaman listrik berkepanjangan, kerusakan pohon dalam skala luas, serta kondisi perjalanan yang sangat berbahaya, khususnya di wilayah yang jarang menghadapi cuaca musim dingin ekstrem.
Ancaman cuaca tidak berhenti saat badai mereda. Setelahnya, suhu dingin ekstrem diperkirakan masih akan bertahan, terutama di wilayah Dataran Utara dan Midwest Atas.
Suhu akibat hembusan angin bahkan diprediksi dapat mencapai minus 45 derajat Celsius, kondisi yang dapat menyebabkan radang dingin hanya dalam hitungan menit.***
Editor : Syafira
Sumber : iNews.id
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































