
TIMETODAY.ID, JAKARTA – Pemerintah Ekuador mengerahkan sekitar 10 ribu personel militer ke tiga provinsi di wilayah pesisir, yakni Guayas, Manabi, dan Los Rios. Langkah besar ini diambil sebagai respons atas melonjaknya kekerasan dan kasus pembunuhan yang terus meningkat sepanjang 2025.
Jenderal Angkatan Udara Ekuador, Mario Bedoya, mengatakan ratusan pasukan khusus telah dikirim untuk memperkuat operasi keamanan di kawasan pesisir yang dinilai paling rawan. Operasi ini difokuskan pada wilayah strategis yang kerap menjadi titik konflik antara aparat dan kelompok kriminal bersenjata.
Sepanjang 2025, Ekuador mencatat rekor kelam dengan total 9.176 kasus pembunuhan hingga Desember. Lonjakan kekerasan ini erat kaitannya dengan meningkatnya aktivitas penyelundupan narkoba yang menjadikan Ekuador sebagai jalur transit utama menuju Eropa dan Amerika Serikat.
Langkah ofensif melawan geng kriminal
Menteri Pertahanan Ekuador, Gian Carlo Loffredo, menyebut pengerahan militer ini sebagai bagian dari rencana perlawanan sengit terhadap geng kriminal. Militer akan bekerja sama dengan kepolisian untuk memasuki fase ofensif penuh di wilayah rawan.
Personel militer akan dipusatkan di Guayaquil sebelum disebar ke daerah sekitarnya berdasarkan analisis intelijen. Pemerintah juga membangun pusat komando tinggi militer di kota tersebut guna mempercepat pengambilan keputusan dan respons keamanan di lapangan.
Keadaan darurat kembali diberlakukan
Pada malam pergantian tahun, Presiden Ekuador Daniel Noboa kembali mendeklarasikan keadaan darurat di sembilan dari 24 provinsi. Status darurat ini memberi kewenangan lebih luas kepada aparat keamanan untuk melakukan penggerebekan dan operasi di wilayah yang dicurigai menjadi basis geng kriminal.
Sebelumnya, pemerintahan Noboa telah secara terbuka menyatakan “perang” terhadap kelompok kriminal terorganisasi yang kian brutal dan terhubung dengan jaringan kartel narkoba internasional.
Teror kekerasan yang mengejutkan publik
Situasi keamanan semakin memprihatinkan setelah ditemukannya lima kepala manusia di pantai Puerto Lopez, Manabi, pekan lalu. Potongan tubuh tersebut diduga menjadi bentuk intimidasi terhadap nelayan lokal yang menolak pemerasan geng kriminal.
Polisi masih mengidentifikasi para korban yang diperkirakan berusia antara 20 hingga 34 tahun. Para pengamat menilai metode teror ini meniru taktik kartel narkoba di Meksiko dan Kolombia, yang sengaja menyebarkan kekerasan ekstrem untuk menanamkan rasa takut. (MG4)
Editor : Salma
Sumber : idntimes.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































