Skincare Berbasis Sains Makin Dominan, Ini 5 Bahan Unggulan di 2026

skincare
ilustrasi memakai skincare. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Industri perawatan kulit memasuki fase baru. Menjelang 2026, inovasi skincare tak lagi sekadar soal tekstur atau kemasan, melainkan semakin berakar pada riset ilmiah dan pemahaman mendalam tentang biologi kulit.

Para dermatolog dan ilmuwan kosmetik mulai melihat pola bahan aktif yang diprediksi akan mendominasi diskusi—dari teknologi mikrobioma hingga filter sunscreen generasi terbaru.

Berikut lima bahan skincare paling menjanjikan untuk 2026, berdasarkan pandangan para pakar dermatologi dan kosmetologi.

Advertisement

1. Postbiotics

Setelah era probiotik dan prebiotik, kini postbiotics mencuri perhatian. Bahan ini merupakan senyawa aktif—seperti peptida, enzim, dan organic hyaluronic acid—yang dihasilkan oleh bakteri baik setelah mencerna prebiotik.

Keunggulan postbiotik terletak pada stabilitasnya. Tidak seperti probiotik hidup yang rentan rusak, postbiotik memberikan manfaat yang lebih konsisten.

“Postbiotik memberikan manfaat yang dapat diukur tanpa masalah ketidakstabilan seperti pada probiotik hidup,” ujar Dr. Dara Spearman, dokter kulit bersertifikat dan pendiri Radiant Dermatology Associates di Indiana.

Menurutnya, postbiotik berperan penting dalam memperkuat skin barrier, meningkatkan hidrasi, dan menenangkan peradangan.

Pandangan serupa disampaikan Dr. Erum Ilyas, dokter kulit bersertifikat sekaligus profesor asosiasi di Drexel University College of Medicine. Ia menilai postbiotik berpotensi meningkatkan elastisitas kulit dan membantu mengontrol jerawat dengan menyeimbangkan produksi minyak.

Baca Juga :  Kenali Tanda-Tanda Handbody yang Tidak Sesuai dengan Jenis Kulitmu

2. Bemotrizinol Sunscreen

Di ranah perlindungan matahari, bemotrizinol digadang-gadang sebagai bintang baru. Filter UV spektrum luas ini sudah lama digunakan di Eropa dan Asia, dan diprediksi akan menjadi filter sunscreen pertama yang disetujui FDA di Amerika Serikat dalam lebih dari dua dekade.

“Sebagian besar filter kimia fokus pada perlindungan UVB, sementara tidak semuanya efektif melawan UVA. Di sinilah bemotrizinol menonjol karena mampu bekerja sebagai multitasker,” jelas Valerie Aparovich, ahli biokimia dan kosmetolog bersertifikat di OnSkin.

Keunggulan lain bemotrizinol adalah sifatnya yang sangat photostable.

“Bahan ini tidak mudah rusak saat terpapar sinar UV dan dapat meningkatkan kinerja filter UV lain ketika diformulasikan bersama,” tambah Dr. Spearman.

3. Bioretinol

Bagi pemilik kulit sensitif yang sulit beradaptasi dengan retinol, bioretinol berbasis alga laut menawarkan harapan baru. Senyawa ini meniru mekanisme kerja retinol dalam merangsang kolagen dan regenerasi sel, namun dengan risiko iritasi yang jauh lebih rendah.

“Bioretinol dari alga memiliki potensi besar,” ujar Dr. Spearman.

Ia menyebut studi perbandingan awal menunjukkan bahan ini lebih bersahabat bagi kulit sensitif atau penderita rosacea. Aparovich menambahkan, bioretinol juga berperan dalam meratakan warna kulit dengan mengurangi hiperpigmentasi dan menghambat produksi melanin.

4. Exosome Generasi Lanjutan

Exosome telah menjadi topik hangat di dunia skincare, dan momentumnya diperkirakan berlanjut hingga 2026. Meski bukti klinisnya masih berkembang, exosome dinilai menjanjikan untuk efek anti-aging, anti-inflamasi, hingga stimulasi pertumbuhan rambut.

Baca Juga :  Mengenal 5 Manfaat Buah Jeruk Untuk Kesehatan

“Ke depannya, kita akan melihat formulasi exosome yang lebih canggih dan stabil untuk meningkatkan efektivitas,” kata Dr. Ilyas.

Ia juga memprediksi pergeseran ke arah exosome sintetis dan berbasis tanaman, yang dinilai lebih aman dan berkelanjutan dibandingkan exosome yang berasal dari manusia.

5. Malachite

Bahan terakhir datang dari alam. Malachite, mineral kaya tembaga dengan sifat antioksidan, mulai dilirik karena potensinya melindungi kulit dari agresor lingkungan.

“Studi in vitro menunjukkan bahwa malachite mampu melindungi kulit dari stres oksidatif yang dipicu oleh polusi dan paparan sinar UV,” ungkap Dr. Spearman.

Stres oksidatif dikenal sebagai pemicu utama penuaan dini, hiperpigmentasi, kulit kusam, hingga jerawat. Kandungan tembaga dalam malachite juga berperan penting dalam pembentukan kolagen dan perbaikan jaringan kulit.

Meski demikian, Dr. Spearman mengingatkan bahwa pemanfaatan malachite masih membutuhkan dukungan riset klinis yang lebih kuat.

“Apabila ke depannya tersedia formulasi yang lebih terstandarisasi dan telah melalui uji keamanan yang memadai, malachite berpeluang bertransformasi dari bahan niche menjadi ingredient arus utama dalam skincare,” ujarnya.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel