Serangan Thailand Tewaskan Warga Kamboja: Konflik Perbatasan Kembali Memanas

Thailand
ilustrasi tentara thailand. Foto: AP

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Ketegangan di perbatasan Thailand–Kamboja kembali meningkat setelah otoritas Kamboja melaporkan dua warga sipil tewas dalam serangan terbaru yang terjadi awal pekan ini. Dengan tambahan korban tersebut, jumlah warga yang meninggal akibat rangkaian serangan militer Thailand kini mencapai sedikitnya enam orang.

Dalam pernyataan resmi yang diunggah di halaman Facebook, Kementerian Pertahanan Kamboja menyebut bahwa pasukan Thailand melepaskan tembakan ke arah posisi militer Kamboja tidak lama setelah tengah malam, dari Senin (8/12/2025) hingga dini hari Selasa (9/12) waktu setempat. Serangan itu mengarah ke wilayah perbatasan di Provinsi Banteay Meanchey dan menewaskan warga sipil.

“Mengakibatkan tewasnya dua warga sipil yang sedang bepergian di ruas Jalan Nasional 56 akibat penembakan,” sebut Kementerian Pertahanan Kamboja dalam pernyataannya.

Advertisement
Baca Juga :  Berikan Kemudahan Layanan Kepada Masyarakat, Mall Pelayanan Publik Resmi Beroperasional di Kabupaten Bogor

Menteri Penerangan Kamboja, Neth Pheaktra, menyampaikan kepada AFP bahwa empat warga sipil sebelumnya juga tewas akibat serangan pasukan Thailand pada Senin (8/12) di Provinsi Preah Vihear dan Oddar Meanchey, dua daerah yang berbatasan langsung dengan Thailand. Sekitar 10 warga sipil lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.

Dari pihak Thailand, militer melaporkan sedikitnya satu prajurit meninggal dan 18 orang terluka sejak bentrokan terbaru pecah pada Minggu (7/12). Kedua negara saling melempar tuduhan sebagai pihak yang memulai serangan. Thailand menyatakan pada Senin (8/12) bahwa mereka melancarkan serangan udara serta mengerahkan tank sebagai respons atas serangan dari pihak Kamboja.

Konflik panjang ini memiliki akar sejarah lebih dari seabad. Thailand dan Kamboja terus berselisih mengenai klaim kedaulatan di titik-titik perbatasan sepanjang 817 kilometer—garis yang pertama kali dipetakan oleh pemerintah kolonial Prancis pada 1907 saat menguasai Kamboja.

Baca Juga :  Bupati Bogor Terima Opini WTP Kedua Berturut-turut untuk LKPD Kabupaten Bogor

Ketegangan serupa sempat memuncak pada Juli lalu ketika sengketa perbatasan berubah menjadi pertempuran lima hari, melibatkan tembakan roket dan artileri berat. Sedikitnya 48 orang tewas dan sekitar 300.000 warga terpaksa mengungsi. Pertempuran saat itu berakhir setelah tercapainya gencatan senjata melalui mediasi Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Namun situasi kembali memburuk bulan lalu setelah sebuah ranjau meledak dan melukai seorang prajurit Thailand, membuat Bangkok menangguhkan implementasi gencatan senjata dengan Kamboja.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel