Badai Melissa Kategori 5 Terjang Jamaika, Angin Capai 282 Km per Jam

Jamaika
Badai Melissa di jamaica (foto: Instagram @hawaii_isla808)

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Angin berdesing tajam, menerpa atap rumah-rumah di pesisir selatan Jamaika. Pohon-pohon kelapa yang menjulang tinggi tampak melengkung hebat ketika Badai Melissa datang menghantam pulau itu pada Senin (27/10/2025) sore waktu setempat.

Dengan kecepatan angin mencapai 282 km per jam (175 mph), Melissa kini tercatat sebagai badai kategori 5—level tertinggi dalam skala Saffir-Simpson, dan disebut para ahli sebagai badai “katastrofik”.

Menurut Pusat Badai Nasional AS (NHC), Melissa diperkirakan melintas di atas Jamaika pada Senin malam hingga Selasa dini hari, lalu bergerak ke arah timur Kuba dan Bahama sebelum menuju Kepulauan Turks dan Caicos pada Rabu.

Advertisement

“Rentang angin Melissa saat ini lebih besar daripada panjang Jamaika,” tulis laporan NHC yang memperingatkan potensi kerusakan parah akibat angin ekstrem dan curah hujan yang bisa mencapai 90 sentimeter.

Peringatan dan Evakuasi Massal

Sore itu, Perdana Menteri Jamaika Andrew Holness mengumumkan keadaan darurat. Ia memerintahkan evakuasi wajib bagi wilayah selatan, termasuk kota bersejarah Port Royal, dan mengajukan permintaan bantuan internasional.

“Tidak ada infrastruktur di wilayah tersebut yang dapat menahan Kategori 5,” ujarnya dikutip Reuters, Selasa (28/10/2025).

Holness menuturkan, pemerintah telah menyiapkan anggaran tanggap darurat sebesar USD33 juta, serta cadangan asuransi dan kredit untuk mengantisipasi kerusakan yang mungkin lebih besar dibanding Badai Beryl yang memorakporandakan Jamaika tahun lalu.

Baca Juga :  Wacana Pemanggilan Mason Greenwood Ditentang Pemain Jamaika, Kenapa?

Namun, tidak semua warga memilih mengungsi. Beberapa penduduk mengaku takut meninggalkan rumah karena khawatir akan penjarahan. Di sisi lain, bus-bus evakuasi telah disiagakan untuk mengevakuasi sekitar 28.000 warga yang berada di zona paling berisiko.

Badai yang Bergerak Lambat dan Mematikan

Ahli meteorologi menyebut Melissa sebagai badai yang “ganjil”—bergerak perlahan di atas perairan Karibia yang hangat, kondisi ideal untuk memperkuat intensitasnya.

“Puluhan ribu keluarga menghadapi hembusan angin ekstrem selama berjam-jam di atas 100 mph dan hujan deras yang tak henti-hentinya selama berhari-hari,” kata Jonathan Porter, Kepala Meteorologi AccuWeather.

Ia menambahkan, lambatnya pergerakan badai ini justru membuatnya jauh lebih berbahaya.

“Badai besar yang bergerak lambat sering tercatat dalam sejarah sebagai salah satu yang paling mematikan dan merusak. Ini adalah situasi mengerikan yang terjadi dalam gerakan lambat,” ujarnya.

Evan Thompson, dari Badan Meteorologi Jamaika, mengingatkan bahwa Jamaika belum pernah mengalami hantaman langsung dari badai Kategori 5. “Melissa bergerak jauh lebih lambat daripada Badai Gilbert pada 1988,” katanya, sambil memperingatkan bahwa beberapa komunitas mungkin terisolasi selama berminggu-minggu.

Suara dari Gunung Biru

Di daerah pegunungan Blue Mountains, situasi lebih mencekam. Damian Anderson (47), seorang guru di Hagley Gap, mengatakan komunitasnya kini terputus total.

Baca Juga :  Delcy Rodriguez: Venezuela Tidak Akan Menyerah Meski AS Klaim Kendali

“Kami tidak bisa bergerak. Kami takut. Kami belum pernah melihat peristiwa yang berlangsung beberapa hari seperti ini sebelumnya,” ungkapnya.

Hujan lebat membuat jalan utama tertutup longsor, sementara angin terus berhembus kencang memutus aliran listrik di seluruh wilayah.

Efek Domino di Karibia

Sementara itu, Haiti dan Republik Dominika yang berdekatan juga menghadapi dampak badai. Hujan deras selama berhari-hari telah menyebabkan setidaknya empat kematian, dan ribuan orang kehilangan tempat tinggal.

Pemerintah Haiti melaporkan lebih dari 3.650 warga telah dievakuasi ke tempat penampungan darurat, dengan penerbangan serta aktivitas pelayaran di semenanjung selatan yang sementara dihentikan.

Di Bahama, Perdana Menteri Philip Davis mengeluarkan perintah evakuasi bagi warga di wilayah selatan dan timur. Sementara pihak berwenang Kuba mengumumkan lebih dari 500 ribu orang telah diungsikan dari daerah pesisir dan pegunungan timur.

Sekolah, transportasi umum, dan kegiatan ekonomi di Santiago de Cuba—kota terbesar kedua di negara itu—telah dihentikan sepenuhnya.

Lebih dari 250 ribu warga kini berlindung di tempat penampungan, menunggu badai berlalu. Di langit Karibia yang kelabu, Melissa terus berputar perlahan—menjadi pengingat bahwa di tengah kemajuan teknologi dan kekuatan manusia, alam masih memiliki cara untuk menunjukkan dominasinya.***

Editor : Syafira

Sumber : iNews.id

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel