TIMETODAY.ID, WASHINGTON — Laut Karibia yang biasanya biru tenang kini berubah menjadi arena ketegangan bukan hanya karena konflik politik, tetapi juga karena amukan alam. Badai Melissa, badai kategori 5 dengan kecepatan angin mencapai 280 km/jam, memaksa sejumlah kapal perang Amerika Serikat (AS) yang sedang menjalankan misi antinarkoba berpindah posisi demi keselamatan.
“Angkatan Laut AS mengambil keputusan berdasarkan data dan prakiraan cuaca terkini. Keselamatan personel dan keluarga mereka adalah prioritas utama kami,” ujar seorang pejabat Angkatan Laut AS, Senin (27/10/2025).
Badai itu datang di saat yang sensitif. AS tengah meningkatkan kehadiran militernya di perairan Karibia wilayah yang kini juga menjadi titik panas geopolitik antara Washington dan Caracas.
Pejabat Angkatan Laut tersebut menjelaskan bahwa beberapa kapal harus dipindahkan dari jalur badai, tanpa menyebut nama maupun jumlah kapal yang terlibat.
“Badai Melissa tidak akan berdampak signifikan terhadap operasi di wilayah tersebut. Sebagian besar dari delapan kapal perang yang dikerahkan berada di luar jalur badai,” tambahnya.
Menurut badan cuaca nasional AS, Melissa diklasifikasikan sebagai badai kategori 5, level tertinggi dalam skala klasifikasi badai.
Dengan kecepatan angin berkelanjutan sekitar 280 km/jam dan pergerakan hanya 5 km/jam, badai ini berpotensi menghancurkan wilayah yang dilaluinya karena paparan angin ekstrem dan hujan deras dalam waktu lama.
Namun, bukan hanya cuaca yang menimbulkan kecemasan. Di balik awan badai, aroma konflik politik juga terasa.
AS diketahui mengerahkan Kelompok Serangan Amfibi Iwo Jima di Laut Karibia bagian selatan.
Gugus tempur itu mencakup lebih dari 4.500 pelaut dan marinir, tersebar di kapal serbu amfibi USS Iwo Jima, serta dua kapal transportasi amfibi, USS San Antonio dan USS Fort Lauderdale.
Kapal-kapal lain seperti USS Jason Dunham, USS Stockdale, USS Gravely, USS Lake Erie, dan USS Wichita juga beroperasi di kawasan tersebut.
USS Gravely bahkan diketahui sempat berlabuh di Trinidad dan Tobago pada 26 Oktober untuk mempersiapkan latihan gabungan hingga 30 Oktober. Sementara itu, Korps Marinir AS mengerahkan 10 pesawat tempur siluman F-35B ke Puerto Riko guna memperkuat operasi laut di kawasan.
Keberadaan armada sebesar ini tak bisa dilepaskan dari konteks operasi antinarkoba yang sedang dijalankan Washington.
Menurut laporan resmi, pasukan AS telah melakukan 10 penggerebekan terhadap kapal yang diduga membawa narkoba di perairan Karibia, lepas pantai Venezuela, dan Samudra Pasifik. Operasi itu menewaskan sedikitnya 43 orang, meski Washington belum merilis bukti bahwa target tersebut benar-benar bagian dari jaringan perdagangan narkoba.
Langkah militer AS ini memicu gelombang kritik di Amerika Latin. Sejumlah negara menilai operasi itu sarat agenda politik tersembunyi—terutama untuk menekan pemerintahan Presiden Nicolás Maduro di Venezuela.
Maduro pun menanggapi dengan nada tegas. “Ancaman terbesar bagi Venezuela dalam 100 tahun terakhir,” ujarnya, menuding peningkatan aktivitas militer AS sebagai upaya mengoyak kedaulatan negaranya.
Ia bahkan memerintahkan mobilisasi pasukan reguler dan cadangan, seraya memperingatkan kemungkinan “perjuangan bersenjata” jika situasi memburuk.
Ketegangan makin terasa setelah Pentagon menarik gugus tugas kapal induk USS Gerald R. Ford dari Eropa untuk dikerahkan ke Karibia sebuah langkah yang dianggap sinyal eskalasi baru.
Sebagai respons, Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino mengumumkan latihan pertahanan pesisir besar-besaran, menegaskan kesiapan negaranya menghadapi potensi ancaman langsung dari AS.
Di tengah badai alam dan badai politik yang menggulung kawasan, Karibia kini seolah berdiri di dua tepi ancaman: amarah bumi dan amarah manusia.***
Editor : Syafira
Sumber : beritasatu.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































