TIMETODAY.ID, JAKARTA – Di tengah kesibukan dan tekanan hidup sehari-hari, stres sering kali menjadi hal yang sulit dihindari. Namun, ketika stres berlangsung terlalu lama, tubuh bisa mengirimkan sinyal bahaya yang jarang disadari. Salah satunya melalui peningkatan hormon kortisol zat yang dikenal sebagai “hormon stres.”
Dalam jumlah wajar, kortisol berperan penting menjaga tekanan darah, energi, serta mengendalikan peradangan. Tapi saat produksinya berlebihan dan berlangsung terus-menerus, efeknya bisa terasa nyata, bahkan terlihat dari luar. Mulai dari berat badan yang sulit turun hingga kulit tampak lelah, kadar kortisol tinggi menjadi cerminan bahwa tubuh sedang kewalahan menghadapi tekanan.
- Wajah dan Perut Lebih Berisi
Peningkatan kortisol kronis dapat memicu penumpukan lemak, terutama di area wajah dan perut. Wajah bisa tampak lebih bulat karena retensi cairan, sementara lemak di perut menumpuk akibat dorongan tubuh untuk menyimpan energi di sekitar organ vital. Kondisi ini sering disebut “obesitas sentral” dan menjadi salah satu tanda klasik stres jangka panjang.
- Kulit Kusam dan Menua Lebih Cepat
Kortisol yang berlebihan dapat mempercepat proses penuaan kulit. Hormon ini memecah kolagen—zat yang menjaga kulit tetap kencang dan elastis. Akibatnya, kulit tampak kendur, kusam, dan mudah berjerawat. Tak jarang, orang dengan stres kronis juga mengalami luka yang lebih lama sembuh dan kulit yang lebih sensitif terhadap paparan luar.
- Rambut Mudah Rontok
Jika rambut tiba-tiba menipis atau pertumbuhannya melambat, stres mungkin jadi penyebabnya. Kortisol tinggi dapat mengganggu siklus alami rambut, mempersingkat fase pertumbuhan, dan memicu kerontokan. Fenomena ini dikenal sebagai telogen effluvium, di mana folikel rambut sulit memproduksi helaian baru.
- Otot Melemah dan Postur Tubuh Berubah
Ketika kadar kortisol terus meningkat, tubuh mulai memecah jaringan otot untuk mendapatkan energi cepat. Akibatnya, otot-otot terutama di lengan dan kaki bisa mengecil, tubuh terasa lemah, dan postur cenderung membungkuk. Dalam jangka panjang, hal ini juga bisa berdampak pada kepadatan tulang dan meningkatkan risiko nyeri punggung bawah.
Menjaga Keseimbangan Kortisol
Mengelola stres bukan berarti harus menghindarinya sepenuhnya, tetapi belajar menyeimbangkannya. Cara sederhana seperti tidur cukup, berolahraga rutin, meditasi, serta mengatur napas dalam dapat membantu menurunkan kadar kortisol. Mengurangi kafein dan menjaga pola makan seimbang juga berperan penting dalam menjaga kestabilan hormon ini.
Jika keluhan seperti berat badan sulit turun, rambut rontok, atau kelelahan terus dirasakan, sebaiknya konsultasikan dengan dokter. Pemeriksaan kadar kortisol bisa membantu memastikan apakah tubuh sedang mengalami stres berlebihan atau gangguan hormonal lain yang perlu ditangani lebih lanjut.
Dengan mengenali tanda-tandanya sejak dini, kamu bisa membantu tubuh kembali seimbang karena stres boleh datang, tapi jangan sampai mengambil alih keseharianmu. (MG4)
Editor : Salma
Sumber : tabloidbintang.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel








































