TIMETODAY.ID, JAKARTA — Sebuah langkah tegas diambil oleh Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung. Di tengah meningkatnya kasus warganya yang tertipu iklan lowongan kerja palsu dan disekap di Kamboja, ia memerintahkan penggunaan “sistem sensor darurat” milik Komisi Standar Komunikasi Korea (KCSC).
Sistem itu akan digunakan untuk melacak dan memblokir iklan rekrutmen palsu yang telah menjerat banyak korban.
Langkah cepat ini diumumkan oleh Penasihat Keamanan Nasional Korea Selatan, Wi Sung-lac, pada Kamis (16/10/2025). Ia menegaskan bahwa pemerintah menganggap situasi tersebut sebagai krisis nasional yang sangat serius.
“Kami memandang situasi ini sangat serius. Presiden telah memerintahkan langkah cepat untuk menindak tegas iklan rekrutmen palsu yang menjerumuskan warga ke dalam eksploitasi di luar negeri,” ujar Wi.
Kasus penipuan yang bermula dari tawaran kerja bergaji tinggi di Kamboja itu telah memakan banyak korban. Sejumlah warga Korea ditemukan disekap, dipaksa bekerja dalam jaringan kejahatan siber, bahkan beberapa di antaranya meninggal dunia.
Sebagai respons, Kementerian Pendidikan Korea mengeluarkan surat mendesak kepada seluruh universitas untuk memperketat pengawasan terhadap mahasiswa dan staf yang hendak bepergian ke luar negeri, terutama ke Kamboja.
Peringatan ini dikeluarkan setelah tragedi menimpa seorang mahasiswa bernama Park Min-ho, yang ditemukan tewas dua bulan lalu akibat penculikan oleh kelompok kriminal di negara tersebut.
Sumber di kantor kepresidenan menyebutkan, Presiden Lee sebenarnya telah mengambil langkah perlindungan sejak jauh sebelum kasus ini ramai diberitakan. Dalam tiga bulan terakhir, pemerintah telah mengeluarkan sedikitnya empat laporan dan arahan resmi terkait pengamanan warga Korea di luar negeri.
Langkah-langkah yang dilakukan antara lain penambahan staf diplomatik di Kamboja, peningkatan status peringatan perjalanan, kerja sama dengan kepolisian setempat, serta penutupan situs-situs perekrutan palsu. Pemerintah juga memperkenalkan aplikasi antipenipuan untuk membantu warga mengenali tawaran kerja yang mencurigakan.
Selain itu, Korea Selatan berkomitmen memperkuat kerja sama internasional untuk memburu jaringan kriminal lintas negara ini. Pemerintah tengah berkoordinasi dengan PBB, Komisi HAM, dan badan antinarkoba untuk menindak para pelaku serta menyita aset hasil kejahatan.
Hingga kini, otoritas Korea telah menemukan 40 warga yang berhasil diselamatkan, sementara 76 orang lainnya masih dalam pencarian.
Langkah darurat Presiden Lee menjadi penanda bahwa perlindungan terhadap warga negara kini menjadi prioritas utama — bukan hanya di dalam negeri, tapi juga di tengah kompleksitas ancaman global yang kian nyata di dunia digital.***
Editor : Syafira
Sumber : beritasatu.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































