TIMETODAY.ID, JAKARTA — Senin sore (29/9/2025) berubah mencekam di Desa Buduran, Kabupaten Sidoarjo. Suasana khusyuk ibadah di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny mendadak berubah menjadi kepanikan, ketika bangunan mushola utama yang masih dalam proses pembangunan ambruk menimpa para santri yang sedang berada di dalamnya.
“Di saat pengecoran, di sana ada retakan dari tengah. Dari atas itu jatuh, lalu menindih bagian bawah,” tutur Muhammad Wafiq, salah satu santri Ponpes Al-Khoziny, mengutip dari iNews. Ia masih mengingat jelas bagaimana lantai atas mushola yang sedang dikerjakan runtuh seketika.
Padahal, lantai dasar mushola sudah lama digunakan untuk ibadah. Senin sore itu, puluhan santri tengah melaksanakan Salat Asar berjamaah. Wafiq menceritakan, ambruknya bangunan justru terjadi setelah sholat selesai.
“Sholat Asar berjamaah, tidak langsung roboh. Saat wiridan setelah sholat,” ujarnya lirih.
Santri Terjebak Reruntuhan
Peristiwa itu membuat sejumlah santri terjebak di balik bongkahan beton. Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, yang meninjau langsung ke lokasi, menyebut ada tiga santri yang posisinya sulit dijangkau.
“Kita lagi mikirin, ada tiga (korban) posisinya di lantai 2. Kita belum bisa nembus, bahaya,” kata Emil.
Korban Jiwa dan Puluhan Luka-Luka
Tragedi ini menelan korban jiwa. Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Pol Julest Abraham Abas, menyampaikan kabar duka bahwa satu santri meninggal dunia.
“Mendapatkan informasi di RS Hajar, satu korban meninggal dunia,” ujarnya.
Selain itu, sebanyak 79 santri mengalami luka-luka. “Sejauh ini, kami melakukan pendataan dari data yang ada, ada kurang lebih 79 korban, terbagi di dua RS. Di RS Siti Hajar ada 45 korban kemudian di RSUD Sidoarjo ada 34,” lanjut Julest.
Evakuasi Dramatis di Tengah Reruntuhan
Sejak sore hingga petang, upaya evakuasi terus dilakukan. Anggota BPBD, Tim SAR, dan relawan berjibaku membuka akses yang tertutup reruntuhan beton.
“Setelah melakukan assessment, tim SAR gabungan mendapati adanya tanda-tanda dua korban dalam keadaan selamat di bawah reruntuhan,” terang Nanang Sigit, Kepala Kantor SAR Surabaya yang bertindak sebagai SAR Mission Coordinator.
Tim tambahan pun dikerahkan dengan peralatan ekstrikasi. “Tim kedua tiba dengan bantuan peralatan tambahan dan Tim SAR gabungan langsung melakukan pembukaan akses dengan menggunakan peralatan ekstrikasi,” imbuh Nanang.
Hingga malam hari, suasana di Ponpes Al-Khoziny masih dipenuhi tangis, doa, dan harapan. Bagi para santri, mushola yang seharusnya menjadi tempat suci dan tenang kini berubah menjadi saksi bisu duka mendalam.***
Editor : Syafira
Sumber : Okezone.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































