TIMETODAY.ID, JAKARTA — Sannakji adalah hidangan khas Korea Selatan yang terbuat dari gurita kecil (jenis Octopus minor atau nakji) yang disajikan dalam keadaan masih hidup dan masih bergerak-gerak di piring.
Gurita ini dipotong-potong kecil, kemudian langsung ditaburi minyak wijen dan biji wijen panggang sebagai bumbu pelengkap. Meski potongan gurita sudah kecil, tentakel gurita tersebut masih memiliki sinyal saraf sehingga dapat terus bergerak.
Hidangan ini termasuk dalam kategori “hoe” dalam bahasa Korea, yang mirip dengan sashimi Jepang, yaitu hidangan ikan atau hewan laut mentah.
Biasanya sannakji disantap dengan cara dicocol pada saus dan langsung dimakan tanpa dimasak terlebih dahulu. Sensasi makan sannakji yang masih bergerak memberikan pengalaman unik dan menegangkan, terutama bagi yang menyukai tantangan kuliner ekstrem.
Namun, mengonsumsi sannakji juga memiliki risiko serius karena tentakel gurita yang masih aktif dapat menyedot dan menempel di lidah, gusi, atau tenggorokan jika tidak dikunyah dengan benar. Hal ini menimbulkan bahaya tersedak yang bisa fatal.
Oleh karena itu pengunjung yang ingin mencoba sannakji disarankan untuk berhati-hati saat mengonsumsinya.
Secara budaya, sannakji dianggap sebagai simbol kesegaran laut dan keberanian dalam tradisi kuliner Korea, dengan sejarah yang sudah berlangsung selama berabad-abad.
Banyak orang Korea percaya bahwa menyantap sannakji dapat menambah kekuatan dan stamina tubuh, sehingga hidangan ini populer di kalangan masyarakat lokal serta turis yang mencari pengalaman kuliner yang unik dan ekstrem.
Singkatnya, sannakji adalah hidangan gurita hidup Korea yang menawarkan pengalaman makan yang menantang dan kaya budaya, sekaligus memiliki potensi bahaya jika tidak dikonsumsi dengan hati-hati.***








































