TIMETODAY.ID, GAZA — Ratusan warga Israel turun ke jalan pada Kamis (7/8/2025) memprotes rencana Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk mencaplok seluruh wilayah Jalur Gaza.
Aksi protes berlangsung tepat di depan kantor perdana menteri di Yerusalem, bertepatan dengan sidang kabinet keamanan yang membahas voting perluasan operasi militer dan kemungkinan aneksasi penuh atas wilayah Palestina tersebut.
Dalam tayangan video dari Forum Sandera dan Keluarga Hilang, tampak kerumunan demonstran memadati area sekitar kantor pemerintahan. Beberapa membawa foto para sandera yang masih ditahan di Gaza, sementara yang lain menyerukan yel-yel untuk menghentikan agresi dan menuntut kepulangan sandera secara aman.
“Meningkatkan pertempuran adalah hukuman mati dan penghilangan paksa bagi orang-orang yang kita cintai. Tatap mata kami saat Anda memilih untuk mengorbankan mereka,” tegas pernyataan resmi forum tersebut, dikutip dari CNN.
Forum juga mendesak pemerintah untuk segera mengajukan kesepakatan yang menjamin pembebasan para sandera yang tersisa.
“Inilah saatnya. Ajukan kesepakatan komprehensif yang akan menyatukan mereka semua, ke-50 sandera.”
Menurut laporan terbaru, sekitar 50 orang diyakini masih disandera di Gaza. Dari jumlah tersebut, 20 dilaporkan masih hidup.
Salah satu suara yang paling menyayat datang dari Anat Angrest, seorang ibu dari salah satu sandera. Ia menyampaikan kekecewaannya kepada pemerintahan Netanyahu karena merasa diberi harapan kosong selama hampir dua tahun.
“Anda telah gagal,” kata Angrest singkat namun tajam, menyuarakan keputusasaan yang dirasakan banyak keluarga korban.
Aksi serupa juga berlangsung di Tel Aviv, di depan kantor pusat partai Likud yang dipimpin Netanyahu. Para demonstran di sana menyerukan desakan yang sama—pemerintah diminta memprioritaskan keselamatan para sandera ketimbang memperluas operasi militer.
Selain di Yerusalem dan Tel Aviv, unjuk rasa dengan skala lebih kecil juga terjadi di beberapa kota lain seperti Herzeliyah, Ra’anana, dan Ness Ziona.
Meski Netanyahu mengklaim rencana pencaplokan Gaza sebagai langkah strategis untuk menyelamatkan para sandera, sejumlah pihak—termasuk Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel—menolak keras gagasan itu. Ia memperingatkan bahwa operasi besar-besaran justru bisa menjadi “jebakan” yang membawa konsekuensi serius.
Kemarahan publik dan tekanan dari keluarga sandera kini menjadi ujian besar bagi Netanyahu. Di tengah krisis kemanusiaan yang memburuk, ia harus memilih antara langkah militer atau solusi diplomatik yang semakin sulit dicapai.***
Editor : Syafira
Sumber : CNNIndonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel








































