TIMETODAY.ID — MotoGP musim 2025 menyuguhkan perubahan dramatis bagi Ducati, yang sempat dijuluki sebagai “Ducati Cup” karena dominasi mereka yang nyaris tak terbendung. Namun, kini julukan itu berubah menjadi “Ducati Crisis” setelah tim pabrikan Italia ini gagal memenangkan dua balapan secara beruntun untuk pertama kalinya sejak Oktober 2022.
Situasi ini semakin menegaskan bagaimana persaingan di MotoGP mulai semakin ketat, dengan tim-tim lain seperti Aprilia, Yamaha, dan Honda mulai menunjukkan performa yang mampu menyaingi Ducati.
Krisis Ducati ini sedikit terobati berkat kehadiran sosok pembalap spesial, Marc Marquez. Pada balapan MotoGP Inggris di Sirkuit Silverstone, Minggu (25/5), Marquez berhasil membawa Ducati Corse naik podium dengan finis di posisi ketiga, tepat di belakang Marco Bezzecchi (Aprilia) dan Johann Zarco (LCR Honda). Podium ini menjaga rekor impresif Ducati, yang selalu berhasil meraih podium dalam 73 balapan beruntun di kelas MotoGP.
Namun, keberhasilan itu bukan tanpa perhitungan. Jika bukan karena masalah pada perangkat ride height device yang dialami pembalap Yamaha, Fabio Quartararo, Ducati mungkin tidak akan melihat warna podium di Silverstone.
Sukses Bezzecchi menjadi juara di MotoGP Inggris juga menandai keberagaman pemenang musim ini, dengan lima pembalap berbeda yang sudah meraih kemenangan—termasuk tiga kali Marc Marquez, Francesco Bagnaia, Alex Marquez, dan Johann Zarco.
Sebelum musim 2025, dominasi Ducati di MotoGP sangat jelas sehingga kompetisi sering dianggap sebagai “Ducati Cup.” Namun, penurunan performa dalam dua balapan terakhir—GP Prancis dan GP Inggris—menandai tantangan berat yang harus dihadapi tim pabrikan asal Italia tersebut.
Johann Zarco yang meraih podium kedua di Silverstone menjadi bukti bahwa kemenangan Honda di GP Prancis bukanlah kebetulan. Di sisi lain, performa Quartararo dengan tiga kali pole position beruntun dan sempat memimpin balapan di Inggris juga menunjukkan ancaman nyata dari Yamaha.
Francesco Bagnaia, sang rider andalan Ducati, mengakui adanya masalah pada motor Desmosedici GP25 milik timnya. Meski begitu, kehadiran Marc Marquez yang mampu tampil konsisten jadi penyelamat bagi Ducati.
“Marc [Marquez] menyembunyikan masalah yang kami hadapi sepanjang akhir pekan. Dia melakukan pekerjaan yang fantastis. Ini adalah sesuatu yang perlu direnungkan, dan saya yakin tim dan teknisi harus bekerja untuk menemukan solusi, karena tim lain membaik dan kami mandek, atau bahkan memburuk. Jadi, kami perlu mengambil langkah,” ujar Bagnaia, dikutip dari Crash.
Kondisi ini menunjukkan bahwa Ducati tengah berada di titik kritis. Tantangan berat menanti bagi mereka untuk memperbaiki performa motor dan kembali merebut kejayaan di musim yang penuh persaingan ketat ini.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































