
TIMETODAY.ID, BOGOR – Wah, betapa gemilangnya visi pembangunan sekolah rakyat di Kota Bogor! Sayangnya, mimpi mulia ini harus patah di tengah jalan, lantaran lahan yang diajukan ditolak pemerintah pusat. Bukannya tak ada lahan, tapi entah kenapa lahan yang ada selalu ‘bermasalah’, mulai dari terlalu kecil sampai miringnya seperti tanjakan gunung!
Pertama, ada lahan di Kertamaya. “Hanya” 2,2 hektare, padahal syarat minimal harus 5 hektare. Rupanya, ukuran segitu cuma cukup buat lapangan bola kecil, bukan untuk sekolah rakyat. Lalu giliran lahan di Rancamaya, bekas terminal agribisnis yang sudah lega 10 hektare. Tapi apa daya, menurut Kemen PU, kemiringannya 45 persen!
“Syaratnya cuma 10 persen, mungkin biar proses pembangunan gampang,” ujar Medi Sandora, Sekretaris Dinas Sosial Kota Bogor.
Jadi jelas, kalau sekolah rakyat di Bogor berdiri di atas lahan miring 45 persen, nanti siswa-siswinya harus belajar sambil olah raga ekstrem menuruni bukit. Tapi tenang saja, Medi meyakinkan bahwa upaya mencari lahan yang ‘normal’ masih terus berlangsung, meskipun sampai sekarang seolah menanti mukjizat.
Sambil menunggu tanah ‘idaman’, pemerintah pusat telah menghibahkan fasilitas Sentra Terpadu Intan Suweno di Karadenan sebagai ‘taman bermain’ pendidikan alternatif.
“Untuk siswa SMP, kami diberi kuota 100 orang,” kata Medi.
Jadi bagi warga miskin yang beruntung masuk daftar, seragam dan makan gratis bisa dinikmati, mirip dengan janji manis sekolah rakyat, cuma bedanya lokasinya sudah fixed dan tanpa drama kemiringan.
“Insya Allah ini tiap tahun akan terus berlanjut. Cuma kuotanya tidak sama 100. Menyesuaikan dengan kondisi di sana, semoga ini bisa membantu,” tutup Medi.
Editor : B. Supriyadi
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel




































