TIMETODAY.ID — Pagi itu, WS, seorang sopir taksi konvensional, mungkin hanya ingin beristirahat sejenak. Ia menghentikan kendaraannya di pinggir jalan kawasan Blok M, Jakarta Selatan lokasi yang tak asing baginya sebagai pengemudi yang sudah bertahun-tahun menyusuri jalanan ibu kota. Namun, istirahat singkat itu justru berubah jadi petaka.
Tanpa disangka, WS terlibat adu mulut dengan seorang pria yang diduga sebagai juru parkir liar (jukir) di kawasan tersebut. Dari adu mulut itulah, peristiwa pengeroyokan bermula.
“Keterangan awal dari korban, peristiwa ini terjadi karena cekcok antara korban dan pelaku di TKP,” ujar Kanit Resmob Polres Jakarta Selatan AKP Bima Sakti, mengutip dari kompas.com, Rabu (14/5/2025).
Awalnya, sang jukir menegur WS karena mobilnya berhenti di tempat yang dianggap “dijaga”-nya. Namun, teguran itu dibalas WS dengan ucapan yang dinilai tidak pantas. Dari satu lawan satu, situasi berubah drastis saat dua jukir lainnya bergabung. WS pun jadi bulan-bulanan di jalan.
“Awalnya tukang parkir menegur korban, lalu dibalas dengan perkataan yang tidak pantas dari korban,” kata Bima. “Ketika pelaku pertama terjatuh, dua pelaku lainnya langsung datang dan melakukan pengeroyokan,” lanjutnya.
Akibat insiden ini, WS mengalami luka di beberapa bagian tubuh. Ia segera dilarikan ke rumah sakit untuk perawatan dan visum sebagai bukti dalam proses hukum.
Pihak kepolisian tak tinggal diam. Pada Selasa (13/5/2025), ketiga pelaku berhasil ditangkap di kontrakan mereka yang masih berada di kawasan Blok M. Penangkapan ini merupakan bagian dari Operasi Berantas Jaya 2025 upaya Polda Metro Jaya untuk memberantas tindak kriminal jalanan, termasuk premanisme dan parkir liar.
“Tepatnya juga pada saat ini masih berlangsung Operasi Berantas Jaya 2025 yang digelar di jajaran Polda Metro Jaya,” kata Bima.
Kejadian ini menyoroti persoalan laten di kota besar seperti Jakarta: keberadaan juru parkir liar yang tak jarang mengintimidasi warga dan kerap beroperasi tanpa pengawasan. Meski hanya berawal dari persoalan sepele, kasus WS menunjukkan bagaimana kekerasan bisa terjadi begitu cepat di ruang publik.
Kini, WS masih menjalani pemulihan, sementara proses hukum terhadap para pelaku berjalan. Namun, kasus ini menyisakan satu pertanyaan besar: sampai kapan warga harus merasa terancam hanya karena berhenti di pinggir jalan?
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































