LVMH Pangkas 1.200 Pekerja, Bisnis Anggur Mewah Terjepit Tekanan Ekonomi

Moët Hennessy
Perusahaan milik kekasihnya Lisa BLACKPINK,Moët Hennessy

TIMETODAY.ID — Di balik gemerlap nama-nama besar seperti Dom Pérignon, Hennessy, dan Veuve Clicquot, krisis diam-diam mengguncang jantung bisnis anggur dan minuman beralkohol LVMH. Perusahaan milik miliarder Bernard Arnault ini tengah bersiap memangkas lebih dari 1.200 pekerja di divisi Moët Hennessy—langkah besar yang mencerminkan badai bisnis yang menerpa industri mewah saat ini.

Ironisnya, saat nama Arnault berseliweran di media karena kisah asmara putranya, Frédéric Arnault, dengan Lisa BLACKPINK, dinamika yang lebih serius justru terjadi di dalam ruang rapat dan pabrik Moët Hennessy.

Kinerja Merosot, Biaya Melonjak

Keputusan pemutusan hubungan kerja (PHK) ini diumumkan oleh CEO Jean-Jacques Guiony sebagai bagian dari strategi restrukturisasi besar-besaran. Guiony menyebutkan, jumlah karyawan akan dipangkas kembali ke level tahun 2019, mengikuti tren penurunan pendapatan yang juga kembali ke titik yang sama. Namun, ada satu hal yang justru naik drastis: biaya operasional meningkat hingga 35 persen sejak lima tahun terakhir.

Advertisement
Baca Juga :  Harga Emas Antam Melonjak Rp 20 Ribu, Pecah Rekor Sepekan Terakhir

“Ini adalah organisasi yang dibangun untuk skala bisnis yang jauh lebih besar. Tapi kita harus realistis, pemulihan ini tidak akan terjadi dalam waktu dekat,” ujar Guiony dalam pesannya ke staf.

Krisis Global, PHK Alami

Divisi anggur dan minuman keras ini kini menjadi unit dengan kinerja terlemah di dalam kerajaan LVMH. Penjualan organik Moët Hennessy turun 9% pada kuartal pertama 2025—kontras dengan keseluruhan grup LVMH yang mencatat penurunan 3%. Sebagian besar PHK akan dilakukan melalui pengurangan alami dan pembekuan perekrutan, tanpa jadwal pasti yang diumumkan.

Dari Tiongkok, sudah lebih dari 70 posisi dihapuskan sejak awal tahun, dari target total 100 posisi.

Alexandre Arnault, salah satu anak Bernard Arnault dan kini menjabat sebagai Wakil CEO Moët Hennessy, turut mengakui tantangan luar biasa ini.

“Biasanya, ketika satu divisi melemah, divisi lain bisa menopang. Tapi saat ini, semuanya tidak berjalan dengan sangat baik,” ungkapnya kepada staf.

Baca Juga :  Harga Emas Antam Turun Rp48.000, Jadi Rp3.120.000 per Gram

Dari Mewah ke Realita

Moët Hennessy bukan sembarang merek. Ia adalah simbol perayaan, eksklusivitas, dan kemewahan. Namun, di tengah inflasi global, ketidakpastian geopolitik, dan perubahan pola konsumsi pasca pandemi, anggur mahal dan minuman berkelas bukan lagi prioritas banyak orang. Bahkan pasar besar seperti Tiongkok dan Amerika Serikat menunjukkan tanda-tanda jenuh—diperparah oleh tarif dan hambatan dagang.

Dalam sebuah pernyataan, Moët Hennessy menyebut langkah ini sebagai penyesuaian organisasi, bukan hanya penghematan semata. “Kami mengelola pergantian alami dan tidak mengisi posisi yang kosong,” kata juru bicara perusahaan.

Guiony, dalam nada yang berusaha menenangkan, menyebut kondisi ini sebagai siklus yang akan berlalu.

“Situasinya buruk, tetapi akan membaik,” katanya—sebuah kalimat sederhana yang saat ini menjadi sandaran harapan bagi ribuan karyawan.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel