
TIMETODAY.ID, BOGOR – Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Bogor, Yuno Abeta Lahay, melaporkan terjadinya penurunan signifikan pada tingkat okupansi hotel di Kota Bogor sejak Januari hingga pertengahan April 2025.
“Okupansi kita hanya 28,9 persen di bulan Maret, padahal Januari dan Februari sudah mulai terasa penurunannya,” ujar Yuno kepada wartawan, di Balai Kota Bogor, Senin (14/4/2025).
Yuno menuturkan, pada libur Lebaran okupansi hotel sempat naik di atas 80 persen, namun hanya dari 31 Maret sampai 6 April. Setelahnya, kembali turun di bawah 50 persen.
Yuno juga mengungkapkan bahwa saat ini sudah ada tiga hotel yang menutup operasionalnya, dan dua hotel besar lainnya direncanakan akan tutup pada akhir bulan ini.
Ia menekankan pentingnya melaporkan kondisi ini kepada pemerintah daerah agar tidak terjadi kesalahpahaman terkait penurunan pendapatan dari sektor pajak hotel dan restoran.
“Jangan sampai seolah-olah tidak ada komunikasi dan tidak ada update dari kami. Kami ingin tetap menjaga komunikasi yang baik,” ujarnya.
Menurut Yuno, salah satu penyebab utama penurunan ini adalah dampak dari Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 tentang efisiensi anggaran, yang mengakibatkan nihilnya kegiatan kementerian dan lembaga di Kota Bogor.
“Tadinya kami pikir hanya kehilangan 50 persen bisnis dari kegiatan pemerintah, tapi kenyataannya sampai minggu lalu itu nol. Tidak ada meeting dari kementerian dan lembaga sama sekali,” jelasnya.
Yuno juga menyayangkan berbagai pernyataan dari pejabat pusat maupun provinsi yang dianggap menyudutkan sektor perhotelan, termasuk larangan kegiatan study tour yang seharusnya bisa menjadi peluang pasar.
“Kami sangat menyayangkan kalau ada pernyataan pejabat seperti Gubernur yang berdampak pada kota lain seperti Bogor. Kota itu punya market dan kehidupan bisnis yang berbeda, jangan disamaratakan dengan daerah pertanian,” katanya.
Ia menambahkan, pelarangan study tour juga memberikan dampak langsung pada sektor wisata edukasi di Bogor.
“Kita satu-satunya kota yang punya tujuh museum. Kalau sekolah-sekolah dilarang study tour, lalu siapa yang datang ke museum? Ini membuat nilai jual kita jadi sia-sia,” tutup Yuno. ***




































