Nauru: Negara Kaya yang Hancur Setelah Meembeli Lamborghini dan Ferrari

Sebuah negara pulau kecil di Oseania
Ferrari F8 Tributo (iStock)

TIMETODAY.ID  Sebuah negara pulau kecil di Oseania, Nauru, dikabarkan mengalami kebangkrutan setelah masyarakatnya menghabiskan kekayaan negara untuk membeli mobil super seperti Lamborghini dan Ferrari.

Sebelumnya, Nauru merupakan salah satu negara dengan pendapatan per kapita tertinggi di dunia. Namun, eksploitasi sumber daya oleh pihak asing serta maraknya korupsi membuat perekonomian negara ini runtuh.

Awal Kemakmuran Berkat Fosfat

Perekonomian Nauru selama bertahun-tahun sangat bergantung pada fosfat, mineral yang digunakan dalam pembuatan pupuk.

Advertisement

Sumber daya ini ditemukan dalam jumlah besar oleh perusahaan Inggris pada awal 1900-an. Penambangan pun dimulai sejak 1907, dengan Inggris, Australia, dan Selandia Baru mengambil keuntungan dari eksploitasi fosfat hingga akhir abad ke-20.

Setelah merdeka pada tahun 1968, Nauru mengambil alih tambang fosfat, yang membuat ekonomi negara ini melesat. Pada 1982, laporan The New York Times menyebutkan bahwa pendapatan per kapita Nauru bahkan lebih tinggi dari negara-negara kaya minyak di Timur Tengah, menjadikannya salah satu negara terkaya di dunia saat itu.

Kemakmuran Nauru tercermin dalam gaya hidup mewah warganya. Seorang kepala polisi di sana diketahui membeli Lamborghini, meskipun ukurannya tidak pas untuk kursi pengemudi.

Baca Juga :  Lelah Seharian? Ini 5 Cara Sederhana untuk Menenangkan Pikiran dan Tubuh

Berbagai mobil sport lainnya, termasuk Ferrari, juga diimpor ke pulau kecil itu, meskipun Nauru hanya memiliki satu jalan beraspal dengan batas kecepatan 25 mph (sekitar 40 km/jam).

Pada masa kejayaan tersebut, meskipun hanya segelintir warga yang memiliki saldo bank besar, kekayaan negara memungkinkan Nauru menyediakan layanan gratis bagi warganya. Pemerintah menanggung biaya pendidikan, layanan kesehatan, transportasi, bahkan surat kabar nasional.

Jika fasilitas kesehatan di dalam negeri tidak memadai, pasien akan diterbangkan ke Australia dengan biaya yang sepenuhnya dibiayai negara.

Gaya Hidup Mewah yang Berujung Petaka

Namun, konsumsi berlebihan dan manajemen keuangan yang buruk akhirnya menghancurkan ekonomi Nauru. YouTuber Ruhi Çenet, dalam videonya tahun 2024, menggambarkan bagaimana kegilaan konsumsi di masa lalu masih terlihat hingga kini.

Ia menemukan banyak mobil mewah seperti Cadillac, Jeep, dan Land Rover yang kini dibiarkan terbengkalai di pinggir jalan sebagai bukti kejayaan masa lalu yang telah memudar.

Sejumlah warga pun membenarkan kisah seorang polisi yang membeli Lamborghini hanya untuk menyadari bahwa ia tidak bisa masuk ke dalam mobilnya.

Baca Juga :  Elon Musk Disebut Campur Tangan Politik Inggris Lewat Pidato di Demo London

Pada 1990-an, cadangan fosfat semakin menipis setelah puluhan tahun dieksploitasi. Tanpa sumber daya utama tersebut, ekonomi negara pun mulai runtuh.

Nauru Jadi Surga Pencucian Uang

Ketika kekayaan fosfat habis, Nauru terjebak dalam krisis keuangan akibat pengeluaran negara yang terlalu besar dan gaya hidup mewah warganya.

Untuk mencari sumber pendapatan lain, Nauru sempat menjadi surga pajak dengan menjual lisensi perbankan dan paspor kepada pihak asing.

Bahkan, negara ini menjadi pusat pencucian uang besar-besaran. Dalam satu tahun, sekitar 55 miliar poundsterling (setara Rp1.127 triliun) uang mafia Rusia mengalir melalui bank-bank di Nauru.

Akibatnya, pada tahun 2002, Departemen Keuangan Amerika Serikat menetapkan Nauru sebagai negara pencucian uang.

Kondisi ekonomi yang semakin memburuk akhirnya memaksa Nauru meminta bantuan Australia. Sebagai gantinya, negara ini setuju untuk menampung para pencari suaka yang menuju Australia, menjadikannya tempat transit bagi imigran yang ingin mencari kehidupan baru di negeri Kanguru.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel