Sering Terpapar Matahari? Waspadai Photoaging yang Memicu Penuaan Dini

matahari
ilustrasi memakai sunscreen. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Sinar matahari memiliki manfaat penting bagi tubuh, salah satunya membantu pembentukan vitamin D. Namun, di balik manfaat tersebut, paparan sinar ultraviolet (UV) yang berlebihan dapat memicu berbagai gangguan pada kulit, termasuk photoaging atau penuaan dini akibat sinar matahari.

Kondisi ini terjadi ketika kulit terus-menerus terpapar radiasi sinar UVA dan UVB sehingga proses penuaan berlangsung lebih cepat dibandingkan penuaan alami. Tanpa perlindungan yang tepat, kerusakan kulit dapat terus menumpuk dan berdampak pada kesehatan kulit dalam jangka panjang.

Apa Itu Photoaging?

Advertisement

Photoaging adalah perubahan pada kulit yang disebabkan oleh paparan sinar matahari secara berulang dalam waktu lama. Mengutip Cleveland Clinic, kondisi ini merupakan bentuk penuaan dini yang dipicu oleh radiasi UVA dan UVB.

Selain mempercepat munculnya tanda-tanda penuaan, paparan sinar UV berlebihan juga dapat meningkatkan risiko gangguan kulit yang lebih serius. Penelitian dari Universitas Airlangga dalam jurnal Long-Term Effects of Topical Amniotic Membrane Stem Cell Metabolite Product (AMSC-MP) and Fractional CO2 Laser in Photoaging menyebutkan bahwa paparan sinar UV yang terus-menerus tidak hanya merusak kulit, tetapi juga berpotensi meningkatkan risiko kanker kulit.

Baca Juga :  Panduan Memilih Ikan Laut Sehat yang Aman untuk Keluarga

Tanda-Tanda Kulit Mengalami Photoaging

Kerusakan akibat sinar UV dapat mempercepat proses penuaan alami sehingga berbagai perubahan pada kulit menjadi lebih cepat terlihat.

Beberapa tanda photoaging yang umum meliputi:

  • Muncul kerutan dan garis halus.
  • Timbul bercak cokelat atau lentigo akibat paparan matahari.
  • Warna kulit menjadi tidak merata.
  • Elastisitas kulit berkurang sehingga terasa lebih kendur.
  • Tekstur kulit menjadi kasar dan tampak kusam.
  • Muncul pelebaran pembuluh darah kecil (telangiektasia) yang terlihat di permukaan kulit.

Sementara itu, Yale Medicine juga menyebutkan bahwa photoaging dapat ditandai dengan munculnya freckles, kulit kemerahan, pecahnya pembuluh darah halus di area hidung atau dada, serta hilangnya kekencangan kulit.

Mengapa Sinar UV Berbahaya?

Paparan sinar matahari terdiri dari dua jenis sinar UV yang memiliki dampak berbeda terhadap kulit.

Sinar UVA mampu menembus lapisan kulit lebih dalam dan merusak kolagen maupun elastin, dua komponen penting yang menjaga kulit tetap kencang dan elastis. Kerusakan inilah yang menyebabkan kulit lebih cepat mengalami keriput.

Baca Juga :  Sering Dijemur di Luar? Beberapa Pakaian Ini Justru Rentan Jamur dan Bau

Sementara itu, sinar UVB lebih banyak menyerang lapisan terluar kulit. Radiasi ini dapat merusak DNA sel kulit sehingga meningkatkan risiko penuaan dini, luka bakar akibat sinar matahari, hingga terbentuknya sel-sel prakanker.

Risiko yang Bisa Timbul

Dampak photoaging bukan hanya persoalan estetika. Cleveland Clinic menjelaskan bahwa kerusakan kulit akibat sinar UV juga dapat meningkatkan risiko sejumlah penyakit kulit, seperti melanoma atau kanker kulit, memperburuk rosacea, memicu keratosis seboroik, lentigo aktinik (sun spots), elastosis aktinik yang menyebabkan hilangnya elastisitas kulit, hingga telangiektasia.

Karena itu, penggunaan tabir surya atau sunscreen setiap hari menjadi salah satu langkah sederhana namun penting untuk melindungi kulit dari paparan sinar UV. Selain memakai sunscreen, membatasi aktivitas di bawah terik matahari dan menggunakan pelindung seperti topi atau pakaian berlengan panjang juga dapat membantu mengurangi risiko photoaging.***

Editor : Syafira

Sumber : idntimes.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel