TIMETODAY.ID, JAKARTA — Di tengah suasana yang seharusnya lebih tenang setelah gencatan senjata, suara ledakan kembali mengguncang wilayah selatan Lebanon. Kali ini, korban berasal dari kalangan tenaga medis yang tengah menjalankan tugas kemanusiaan.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan dua paramedis yang berafiliasi dengan Hizbullah tewas akibat serangan yang dilancarkan Israel. Selain itu, lima petugas medis lainnya mengalami luka-luka.
Menurut pernyataan resmi kementerian, dua lokasi milik Komite Kesehatan menjadi sasaran serangan terpisah. Insiden pertama terjadi di Qalaway, yang menewaskan satu petugas medis dan melukai tiga lainnya. Serangan kedua berlangsung di Tibnin dan menyebabkan satu paramedis meninggal dunia serta dua rekannya terluka.
“Israel secara langsung menargetkan dua lokasi milik Komite Kesehatan dalam dua serangan terpisah,” demikian pernyataan Kementerian Kesehatan Lebanon.
Pemerintah Lebanon mengecam serangan tersebut dan menilai tindakan itu sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional, terutama karena terjadi saat gencatan senjata masih berlaku.
Kesepakatan penghentian pertempuran yang dimulai pada 17 April lalu sejatinya ditujukan untuk meredakan konflik antara Israel dan Hizbullah. Namun, bentrokan dan serangan sporadis masih terus terjadi di sejumlah wilayah.
Dalam beberapa hari terakhir, intensitas serangan di Lebanon dilaporkan meningkat. Berdasarkan data terbaru Kementerian Kesehatan Lebanon, sekitar 2.800 orang telah tewas sejak konflik pecah, termasuk lebih dari 100 tenaga kesehatan dan petugas tanggap darurat.
Meski gencatan senjata telah disepakati, situasi di perbatasan Lebanon-Israel masih jauh dari benar-benar tenang. Bagi para tenaga medis yang bekerja di garis depan, ancaman datang bukan hanya dari medan konflik, tetapi juga dari risiko menjadi sasaran di tengah tugas menyelamatkan nyawa.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































