TIMETODAY.ID, JAKARTA — Ketegangan di kawasan Yerusalem kembali menghangat menjelang peringatan yang sarat makna sejarah. Sejumlah pejabat Israel dilaporkan mengajak warga untuk mendatangi kompleks Masjid Al Aqsa pada Jumat, 15 Mei 2026.
Seruan tersebut mencuat bertepatan dengan peringatan “Hari Yerusalem” dalam kalender Ibrani, yang menandai penguasaan Yerusalem Timur oleh Israel pada 1967. Tanggal yang sama juga memiliki arti berbeda bagi warga Palestina, yakni hari peringatan “Nakba”, yang merujuk pada peristiwa 15 Mei 1948 saat berdirinya negara Israel.
Media militer Israel, Army Radio, melaporkan sedikitnya 13 anggota parlemen Knesset, termasuk tiga menteri kabinet, turut mendorong warga Yahudi untuk mendatangi kawasan tersebut. Di antara mereka adalah Menteri Komunikasi Shlomo Karhi, Menteri Olahraga Miki Zohar, serta Menteri Urusan Diaspora Amichai Chikli.
Meski demikian, keputusan terkait izin aktivitas di kawasan sensitif itu masih menunggu sikap pemerintah. Polisi Israel disebut berpotensi menolak seruan tersebut, meskipun dalam beberapa kesempatan sebelumnya mereka mengizinkan kunjungan dalam skala besar ke kompleks tersebut.
Keputusan akhir berada di tangan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Kawasan Sensitif dengan Dua Klaim
Kompleks Al Aqsa menjadi salah satu titik paling sensitif di dunia. Bagi umat Islam, lokasi ini merupakan situs suci ketiga setelah Makkah dan Madinah. Sementara bagi sebagian umat Yahudi, kawasan yang juga dikenal sebagai Temple Mount diyakini sebagai lokasi berdirinya dua kuil kuno.
Sejak 2003, otoritas Israel membuka akses bagi pemukim Yahudi untuk memasuki area tersebut pada hari-hari tertentu, kecuali Jumat dan Sabtu. Kebijakan ini kerap memicu ketegangan dengan warga Palestina.
Simbol Dua Narasi Berseberangan
Di tengah situasi ini, Yerusalem Timur tetap menjadi simbol yang diperebutkan. Warga Palestina memandang wilayah tersebut sebagai ibu kota negara masa depan mereka, mengacu pada berbagai resolusi internasional yang tidak mengakui aneksasi Israel atas kawasan itu.
Di sisi lain, Israel menganggap Yerusalem sebagai ibu kota yang tidak terpisahkan.
Dengan dua narasi yang terus berjalan beriringan, seruan terbaru ini dikhawatirkan kembali memicu eskalasi di kawasan yang selama ini rentan konflik, terutama saat momentum peringatan sejarah yang sarat emosi seperti pertengahan Mei.***
Editor : Syafira
Sumber : iNews.id
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































