
TIMETODAY.ID, SEMARANG – Upaya pencegahan stunting kini diperkuat dari hulu melalui penguatan program keluarga berencana (KB) di tingkat desa. Langkah ini dinilai penting untuk menekan risiko gangguan tumbuh kembang anak sejak sebelum kehamilan hingga masa pengasuhan awal.
Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Penggerakan dan Peran Serta Masyarakat Kemendukbangga/BKKBN Wahyuniati mengatakan, pembangunan keluarga dan pengendalian penduduk menjadi bagian penting dalam mencetak generasi sehat dan berkualitas.
Menurut dia, salah satu langkah utama yang terus didorong ialah penerapan konsep 4T dalam perencanaan keluarga, yakni terlalu muda, terlalu tua, terlalu rapat, dan terlalu banyak.
Ia menjelaskan, kehamilan pada usia di bawah 20 tahun dan di atas 35 tahun, jarak kelahiran kurang dari dua tahun, serta jumlah anak lebih dari empat berisiko terhadap kesehatan ibu dan anak.
Selain itu, usia ideal menikah juga menjadi perhatian, yakni 25 tahun bagi laki-laki dan 21 tahun bagi perempuan agar pasangan lebih siap secara fisik, mental, dan ekonomi.
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah Rusman Efendi mengatakan, keluarga berencana merupakan langkah strategis bagi pasangan usia subur dalam mengatur kehamilan, menjaga kesehatan reproduksi, serta meningkatkan kesejahteraan rumah tangga.
“KB merupakan langkah penting dalam mencapai keluarga yang sehat, sejahtera, dan berencana,” ujarnya.
Di tingkat daerah, Pemerintah Kabupaten Semarang juga memperkuat upaya pencegahan stunting melalui pola pengasuhan anak. Salah satunya lewat program Taman Asuh Sayang Anak yang mendorong penyediaan layanan penitipan anak di desa, perkantoran, hingga kawasan industri.
Program tersebut ditujukan agar kebutuhan pengasuhan anak pada masa usia emas tetap terpenuhi tanpa menghambat produktivitas orang tua.
Selain itu, peran Tim Pendamping Keluarga juga diperkuat melalui pendampingan berbasis data agar intervensi terhadap keluarga berisiko stunting lebih tepat sasaran.
Anggota Komisi IX DPR RI, Muhammad Haris menilai, peningkatan kualitas sumber daya manusia harus dimulai dari keluarga dan desa agar mampu mendorong pemerataan pembangunan sekaligus menekan kemiskinan.
“Pembangunan juga harus dimulai dari desa dan dari bawah untuk mendorong pemerataan ekonomi serta pemberantasan kemiskinan,” tuntasnya.




































