
TIMETODAY.ID, DOHA – Memburuknya konflik di kawasan Timur Tengah (Timteng) memaksa Qatar Airways mengandangkan sejumlah pesawat berbadan lebar, termasuk Airbus A380 dan Airbus A350, ke fasilitas penyimpanan jangka panjang di Teruel Airport, Spanyol. Ancaman rudal dan drone yang kian intensif di kawasan membuat maskapai pelat merah Qatar itu tak lagi aman memarkir armada bernilai miliaran dolar di Doha.
Berdasarkan laporan PYOK, Qatar Airways memindahkan lima pesawat ke Teruel pada Jumat (20/3/2026). Armada tersebut mencakup satu Airbus A380 berregistrasi A7-APC yang sebelumnya berada di London Heathrow Airport, serta empat pesawat berbadan lebar lainnya yang tertahan di berbagai lokasi sejak akhir Februari.
Keempat pesawat itu terdiri atas tiga unit Airbus A350-900 yang masing-masing berada di Cape Town International Airport, King Shaka International Airport, dan Jomo Kenyatta International Airport, serta satu Boeing 787-9 Dreamliner di O.R. Tambo International Airport, Afrika Selatan. Sebelumnya, empat unit Airbus A330 juga telah diterbangkan dari Doha ke Teruel melalui penerbangan nonkomersial.
Teruel Airport dikelola oleh Tarmac Aerosave dan dikenal sebagai pusat penyimpanan, perawatan, serta daur ulang pesawat dengan kapasitas hingga 120 unit. Fasilitas ini kerap digunakan maskapai global ketika permintaan penumpang menurun atau situasi darurat memaksa pengurangan armada aktif.
Operasional Qatar Airways sempat kembali berjalan pada 18 Maret 2026, termasuk layanan transit melalui Doha. Namun, jumlah penerbangan yang sempat ditingkatkan hingga 135 per hari kemudian anjlok drastis menjadi 43 penerbangan dalam beberapa hari berikutnya. Kondisi itu mencerminkan pemulihan permintaan yang belum stabil sekaligus menggambarkan betapa dalam dampak konflik terhadap operasional maskapai.
Selain risiko keamanan, pertimbangan efisiensi biaya turut mendorong keputusan relokasi. Biaya parkir pesawat di bandara besar seperti Heathrow jauh lebih tinggi dibanding fasilitas penyimpanan khusus dalam jangka panjang.
Berbeda dengan Qatar Airways, maskapai Emirates justru mengambil langkah sebaliknya dengan terus meningkatkan operasional. Maskapai berbasis Dubai itu saat ini mengoperasikan lebih dari 350 penerbangan harian melalui Dubai International Airport.
Pemulihan kapasitas penuh industri penerbangan di kawasan Timur Tengah ke kondisi sebelum krisis dinilai masih belum pasti, menandakan proses pemulihan yang berlangsung tidak merata antarmaskapai di kawasan tersebut.



































