TIMETODAY.ID, JAKARTA – Ancaman learning loss kembali membayangi dunia pendidikan Indonesia seiring munculnya wacana penerapan pembelajaran daring bagi siswa mulai April 2026. Wacana itu dikaitkan dengan kebijakan efisiensi dan penghematan energi pemerintah.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayanti mengingatkan, fenomena learning loss—kondisi ketika peserta didik mengalami penurunan kemampuan belajar hingga kehilangan motivasi bersekolah, telah terbukti terjadi selama penerapan pembelajaran jarak jauh pada masa pandemi Covid-19. Penurunan kemampuan kognitif siswa pascapembelajaran daring, kata dia, tercermin dari berbagai hasil pemantauan perkembangan anak di Indonesia.
“Pembelajaran secara daring pernah kita laksanakan ketika terjadi wabah Covid-19. Dan kita semua tahu sistem tersebut meninggalkan problem yang tidak sederhana bagi dunia pendidikan kita,” ujar dikutip dari beritasatu.com, Selasa (24/3/2026).
Esti menilai, dampak pembelajaran daring tidak hanya menyentuh aspek akademis. Kedisiplinan, pembentukan karakter, hingga kondisi psikologis dan kesehatan fisik siswa turut terganggu. Kendala teknologi yang belum merata juga menjadi tantangan struktural yang belum terselesaikan.
“Sistem daring sulit menerapkan pelajaran pada aspek afektif seperti kepribadian, sikap, dan karakter,” ujarnya.
Karena itu, ia menyatakan tidak sepakat dengan wacana tersebut dan meminta pemerintah mengkajinya secara mendalam sebelum keputusan diambil.
Esti mendorong pemerintah mencari alternatif kebijakan lain dalam menghadapi tekanan ekonomi global tanpa harus mengorbankan kualitas pendidikan. Ia menegaskan, sektor pendidikan harus menjadi prioritas dan tidak boleh menjadi korban dari gejolak perekonomian.
“Pasti masih ada langkah alternatif terbaik untuk mengatasi persoalan perekonomian imbas kemungkinan naiknya harga minyak karena kondisi global dunia,” pungkasnya.





































