Konflik Timur Tengah Ganggu Perdagangan, Permintaan Sawit RI Mulai Turun

Konflik
Ketua Umum GAPKI Eddy Martono. Foto: dok.gapki.id

TIMETODAY.ID, JAKARTA Konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah mulai dirasakan dampaknya oleh industri kelapa sawit Indonesia. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyebut biaya logistik dan asuransi pengiriman melonjak tajam sehingga memengaruhi permintaan ekspor.

Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan, aktivitas ekspor sawit Indonesia secara umum masih berlangsung. Namun, meningkatnya risiko pengiriman di tengah situasi konflik membuat biaya logistik dan asuransi naik hingga sekitar 50 persen.

Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya minat pembeli, terutama pada kontrak baru.

Advertisement

“Dengan situasi global seperti ini, kita bersyukur ekspor sawit masih berjalan. Tapi biaya logistik dan asuransi naik sangat tinggi, sekitar 50 persen. Dampaknya ada sedikit penurunan permintaan karena biaya pengiriman jadi lebih mahal,” ujar Eddy di kantor Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Jakarta Selatan, Rabu (11/3/2026).

Baca Juga :  MPLS Di SMPN 1 Citeureup Bentuk Karakter Siswa Siswi

Menurutnya, sebagian besar pengiriman yang masih berlangsung saat ini merupakan kontrak lama yang sudah disepakati sebelumnya. Sementara permintaan baru mulai melambat.

GAPKI juga mencatat gangguan ekspor terjadi pada negara-negara yang jalur pengirimannya harus melewati Selat Hormuz. Pengiriman ke Uni Emirat Arab dan Iran dilaporkan sempat terhenti sementara.

Meski demikian, kontribusi ekspor ke kawasan tersebut relatif kecil. Total ekspor sawit Indonesia ke Timur Tengah hanya sekitar 1,8 juta ton, jauh di bawah pasar utama seperti India dan China.

Baca Juga :  Dampak Serangan AS–Israel ke Iran, Penerbangan Internasional Mulai Dibatalkan

Sementara itu, pengiriman ke sejumlah negara lain masih berjalan. Beberapa kapal bahkan harus mengambil jalur lebih panjang untuk menghindari wilayah konflik, misalnya melalui rute memutar lewat Afrika Selatan.

Eddy menambahkan, dampak konflik terhadap volume ekspor sawit belum dapat terlihat secara jelas karena situasinya masih berlangsung dalam waktu singkat. Penurunan permintaan diperkirakan baru bisa dihitung secara lebih pasti menjelang akhir Maret 2026.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel