TIMETODAY.ID, JAKARTA – Langkah Juventus di UEFA Champions League memang harus terhenti. Namun di balik kekecewaan, terselip rasa bangga atas perjuangan yang nyaris berbuah keajaiban.
Menjamu Galatasaray di Allianz Stadium dalam leg kedua play-off 16 besar, Bianconeri datang dengan beban berat: tertinggal agregat 2-5. Tiga gol dibutuhkan hanya untuk menyamakan kedudukan.
Harapan mulai tumbuh ketika penalti Manuel Locatelli di babak pertama memperkecil jarak. Namun situasi berubah dramatis setelah Lloyd Kelly menerima kartu merah kontroversial di awal babak kedua. Bermain dengan 10 orang, jalan Juventus terasa makin terjal.
Alih-alih runtuh, tim asuhan Luciano Spalletti justru menunjukkan karakter. Didukung atmosfer luar biasa di stadion, mereka menaikkan intensitas permainan. Gol dari Federico Gatti dan Weston McKennie membuat agregat menjadi imbang dan memaksa laga ke babak tambahan.
Namun sepak bola kerap kejam. Satu kelengahan berujung gol Victor Osimhen, sebelum pukulan akhir dari Baris Yilmaz memastikan Juventus tersingkir.
Locatelli tak mampu menyembunyikan emosinya usai laga. Ia mengaku hampir menangis karena benar-benar percaya comeback itu bisa terjadi. Meski gagal, ia menegaskan timnya telah memberikan segalanya hati, jiwa, dan energi yang menyatu dengan para suporter.
Malam itu mungkin tak berakhir bahagia, tetapi Juventus menemukan kembali identitasnya: pantang menyerah, berani melawan situasi, dan tetap berdiri meski terluka. (MG7)
Editor : Davin
Sumber : detiksport.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































