Densus 88 Ungkap Inspirasi Kekerasan Global di Balik Aksi Siswa SMP di Kalbar

SMP
Aksi Siswa SMP di Sungai Raya Kalbar Lempar Molotov Gegerkan Sekolah. Foto: okezone.com

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Kasus pelemparan bom molotov yang dilakukan seorang siswa di SMP Negeri Sungai Raya, Kalimantan Barat, membuka sisi lain dari pengaruh kekerasan global terhadap remaja. Penelusuran aparat menunjukkan bahwa aksi tersebut diduga tidak berdiri sendiri, melainkan terinspirasi dari sejumlah pelaku kekerasan ekstrem di luar negeri.

Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkap temuan tersebut setelah memeriksa barang milik pelaku. Juru Bicara Densus 88 Kombes Mayndra Eka Wardhana menyatakan bahwa pada tas pelaku ditemukan tulisan sejumlah nama yang berkaitan dengan aksi kekerasan massal di berbagai negara.

“Nama-nama yang tertera adalah pelaku penembakan massal dan sering dijadikan referensi di komunitas ekstrem online,” kata Mayndra kepada awak media dikutip, Rabu (11/2/2026).

Advertisement

Densus 88 menyebut beberapa nama yang ditemukan memiliki keterkaitan dengan sejumlah tragedi kekerasan yang pernah mengguncang dunia. Salah satunya adalah Stephen Paddock, pelaku penembakan massal di Las Vegas pada 2017 yang tercatat sebagai salah satu insiden paling mematikan dalam sejarah Amerika Serikat.

Baca Juga :  Maraknya Ritel Modern di Jawa Barat, Samsul Hidayat: Kepala Daerah Harus Jadi Panglima UMKM

Nama lain yang turut ditemukan adalah Adam Peter Lanza, pelaku penembakan di Sandy Hook Elementary School pada 2012. Peristiwa tersebut menewaskan sejumlah siswa sekolah dasar dan tenaga pengajar, serta menjadi salah satu tragedi yang meninggalkan trauma mendalam di masyarakat Amerika.

“Sering dijadikan simbol ekstrem kekerasan nihilistik,” ujarnya.

Selain itu, penyidik juga menemukan nama Seung-Hui Cho, pelaku penembakan di Virginia Tech pada 2007. Kasus tersebut kerap menjadi bahan kajian dalam penelitian mengenai pelaku kekerasan individu atau lone wolf serta fenomena keterasingan sosial.

Nama lain yang disebut adalah Salvador Ramos, pelaku penembakan di Uvalde, Texas, pada 2022 yang menargetkan sekolah dasar. Densus 88 juga menemukan referensi terhadap Luca Traini, pelaku penembakan bermotif rasial di Macerata, Italia, pada 2018 yang diketahui memiliki keterkaitan dengan ideologi ekstrem kanan.

Baca Juga :  Bupati Bogor Tinjau Ramp Check, Pastikan Kendaraan Dinas Tetap Layak Pakai

Tak hanya itu, pelaku juga menuliskan nama Tarrant yang merujuk pada pelaku serangan teror di Christchurch, Selandia Baru, pada 2019.

Penelusuran lebih lanjut menunjukkan bahwa tulisan pada tas tersebut juga mencantumkan singkatan tertentu yang berkaitan dengan subkultur kekerasan ekstrem. Salah satunya adalah TCC yang merujuk pada True Crime Community, kelompok yang dikenal membahas berbagai kasus kekerasan berat.

“Serta #ZERO DAY yang sering dipakai dalam subkultur kekerasan ekstrem dan merujuk pada hari eksekusi serangan. Juga terkait dengan narasi film “Zero Day” tentang penembakan sekolah,” tutupnya.

Kasus ini menambah perhatian terhadap potensi pengaruh konten kekerasan global terhadap remaja, terutama melalui ruang digital yang memungkinkan penyebaran narasi ekstrem secara luas.

Aparat pun terus melakukan pendalaman terhadap motif dan latar belakang pelaku, sekaligus menekankan pentingnya pengawasan lingkungan sosial dan digital bagi kalangan pelajar.***

Editor : Syafira

Sumber : Okezone.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel