TIMETODAY.ID, JAKARTA — Serangan drone kembali menambah daftar panjang tragedi kemanusiaan di Sudan. Sedikitnya 24 orang tewas, termasuk delapan anak-anak, setelah sebuah kendaraan yang membawa keluarga pengungsi dihantam serangan udara di wilayah Sudan tengah, Sabtu (7/2/2026) waktu setempat.
Serangan tersebut diduga dilakukan oleh kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF).
Kendaraan yang menjadi sasaran diketahui mengangkut warga sipil yang melarikan diri dari pertempuran di kawasan Dubeiker. Dari delapan anak yang meninggal, dua di antaranya masih berusia bayi.
Berdasarkan laporan Jaringan Dokter Sudan (Sudan Doctors Network) yang dikutip Associated Press, insiden itu terjadi di dekat Kota Rahad, Provinsi Kordofan Utara.
Wilayah tersebut menjadi salah satu titik rawan dalam konflik berkepanjangan yang terus memakan korban sipil.
Selain korban meninggal, sejumlah warga lainnya mengalami luka-luka dan dilarikan ke fasilitas kesehatan di Rahad.
Namun, keterbatasan layanan medis menjadi kendala serius. Banyak wilayah di Kordofan mengalami krisis pasokan kesehatan akibat perang yang belum mereda.
Jaringan Dokter Sudan mendesak komunitas internasional dan organisasi hak asasi manusia untuk segera mengambil langkah konkret guna melindungi warga sipil.
Mereka juga menuntut agar pimpinan RSF dimintai pertanggungjawaban atas serangan tersebut. Hingga kini, pihak RSF belum memberikan pernyataan resmi.
Serangan mematikan itu terjadi sehari setelah konvoi bantuan Program Pangan Dunia (WFP) diserang di wilayah yang sama.
Koordinator kemanusiaan PBB untuk Sudan, Denise Brown, melaporkan satu orang tewas dan beberapa lainnya terluka dalam serangan terhadap konvoi yang tengah mengirim bantuan pangan darurat ke Kota Obeid, Kordofan Utara. Truk bantuan terbakar dan logistik kemanusiaan hancur.
Brown menegaskan, serangan terhadap operasi kemanusiaan akan menghambat upaya penyelamatan jutaan warga yang menghadapi kelaparan dan pengungsian.
Pekan sebelumnya, serangan drone juga dilaporkan terjadi di dekat fasilitas WFP di Provinsi Blue Nile dan melukai seorang pekerja kemanusiaan.
Kelompok Emergency Lawyers menuding RSF sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangkaian serangan tersebut.
Sementara itu, Jaringan Dokter Sudan menilai aksi tersebut sebagai pelanggaran berat hukum humaniter internasional yang dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Kecaman internasional pun bermunculan. Pejabat Amerika Serikat untuk urusan Afrika dan Arab, Massad Boulos, menyebut penghancuran bantuan pangan serta pembunuhan pekerja kemanusiaan sebagai tindakan yang tidak dapat ditoleransi.
Pemerintah Inggris dan Arab Saudi turut mengecam keras serangan drone terhadap warga sipil, konvoi bantuan, dan fasilitas kesehatan di Sudan.
Perang saudara di Sudan yang pecah sejak April 2023 telah menewaskan lebih dari 40.000 orang dan memicu krisis kemanusiaan terbesar di dunia.
Laporan terbaru memperingatkan ancaman kelaparan yang semakin meluas, dengan jutaan anak-anak dan perempuan berisiko mengalami malnutrisi akut sepanjang 2026, sementara konflik belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.***
Editor : Syafira
Sumber : iNews.id
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































