TIMETODAY.ID, JAKARTA — Langit musim dingin Greenland kembali menjadi saksi meningkatnya perhatian dunia terhadap wilayah otonomi milik Denmark itu. Di tengah lanskap es yang tenang, langkah diplomatik sejumlah negara justru bergerak cepat, menyusul memanasnya wacana geopolitik setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyoroti ambisinya untuk menguasai pulau strategis tersebut.
Kanada dan Prancis menjadi dua negara terbaru yang memperkuat kehadiran diplomatik mereka dengan membuka kantor konsulat di Greenland pada Jumat (6/2/2026). Kehadiran perwakilan diplomatik itu dipandang sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pemerintahan lokal Greenland sekaligus penegasan posisi sekutu Barat dalam menjaga stabilitas kawasan Arktik.
Langkah tersebut sebenarnya bukan sepenuhnya hal baru. Kanada, misalnya, telah lebih dulu mengumumkan rencana pembukaan konsulat di Greenland sejak akhir 2024 sebagai upaya mempererat hubungan bilateral dan memperluas kerja sama dengan wilayah tersebut.
Menurut pengamat politik Universitas Greenland, Jeppe Strandsbjerg, kehadiran perwakilan diplomatik tambahan ini memiliki makna simbolis yang cukup besar bagi masyarakat setempat. “Dalam arti tertentu, ini adalah kemenangan bagi warga Greenland karena melihat dua sekutu membuka perwakilan diplomatik di Nuuk. Ada apresiasi besar atas dukungan terhadap apa yang disampaikan oleh Trump,” kata Jeppe Strandsbjerg, seperti dikutip dari AFP.
Namun, pembukaan konsulat tidak hanya dimaknai sebagai bentuk dukungan terhadap Greenland. Pengamat dari Institut Studi Internasional Denmark, Ulrik Pram Gad, menilai langkah tersebut juga merupakan pesan politik yang lebih luas.
Ia menilai keberadaan konsulat menjadi cara negara-negara sekutu untuk menegaskan bahwa isu Greenland bukan semata persoalan bilateral antara Amerika Serikat dengan Denmark atau Greenland, melainkan kepentingan strategis yang menyangkut stabilitas sekutu Eropa. Pembukaan konsulat, menurutnya, merupakan sinyal diplomatik untuk menunjukkan bahwa potensi agresi terhadap Greenland akan berdampak pada kepentingan geopolitik yang lebih luas.
Ketegangan mengenai status Greenland kembali mencuat sejak Donald Trump menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat untuk periode kedua pada 2025. Trump berulang kali menyampaikan keinginannya untuk menguasai pulau terbesar di dunia tersebut, bahkan menyebut kemungkinan penggunaan kekuatan militer sebagai opsi.
Ancaman itu kembali ditegaskan pada Januari lalu setelah Trump mengklaim telah mencapai kesepakatan “kerangka kerja” dengan Ketua NATO Mark Rutte terkait pembahasan Greenland.
Sebagai respons atas meningkatnya ketegangan, kelompok kerja yang melibatkan perwakilan Amerika Serikat, Denmark, dan Greenland dibentuk untuk membahas berbagai langkah yang dapat menjawab kekhawatiran keamanan di kawasan Arktik. Meski demikian, rincian pembahasan kelompok kerja tersebut belum dipublikasikan secara resmi.
Di balik ambisi Amerika Serikat, Trump menilai kawasan Arktik memiliki nilai strategis yang semakin penting, terutama karena meningkatnya pengaruh Rusia dan China di wilayah tersebut. Situasi itu membuat Washington menilai penguasaan Greenland sebagai bagian dari strategi keamanan globalnya.
Meski memiliki kekhawatiran yang sama mengenai meningkatnya rivalitas geopolitik di Arktik, Denmark dan Greenland tetap menunjukkan sikap tegas. Kedua pihak menegaskan bahwa kedaulatan dan integritas teritorial wilayah mereka merupakan “garis merah” yang tidak dapat dinegosiasikan.
Di tengah ketegangan geopolitik yang semakin kompleks, Greenland kini bukan hanya wilayah terpencil yang diselimuti es, melainkan titik strategis yang menjadi sorotan kekuatan dunia. Perkembangan diplomasi di wilayah tersebut diperkirakan akan terus menjadi penentu arah hubungan internasional di kawasan Arktik dalam beberapa tahun ke depan.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































