
TIMETODAY.ID, BOGOR – Kementerian Sosial bersama Pemerintah Kota Bogor menyiapkan pembangunan Sekolah Rakyat di Kelurahan Rancamaya, Kecamatan Bogor Selatan, Jawa Barat. Sekolah berkonsep boarding (asrama) tersebut direncanakan mulai dibangun pada Juni 2026 dan ditargetkan dapat digunakan Juli 2027.
Sekolah Rakyat akan dibangun di atas lahan seluas sekitar 5 hektare dengan daya tampung minimal 1.000 hingga 1.080 siswa. Pembangunan fisik direncanakan dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum.
Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial, Robben Rico mengatakan, saat ini proyek tersebut masih berada pada tahap awal, yakni kajian teknis dan perencanaan. Proses lelang pembangunan ditargetkan dimulai paling lambat pertengahan 2026.
“Hari ini kita memulai langkah awal. Kita melihat, kemudian memulai proses kajian dan menyiapkan perencanaannya. Insyaallah paling lambat bulan Juni sudah mulai proses lelang, bahkan memulai pekerjaan pertamanya,” ujar Robben, di Bogor, Selasa (20/1/2026).
Menurut Robben, dalam enam bulan ke depan Kemensos bersama Kementerian PU dan Pemkot Bogor akan memaksimalkan seluruh persiapan agar sekolah tersebut dapat segera beroperasi. Sekolah Rakyat ini diperuntukkan bagi anak-anak Kota Bogor yang saat ini menempuh pendidikan di wilayah Cibinong.
Fasilitas yang direncanakan meliputi asrama siswa, ruang kelas, laboratorium, tempat ibadah, lapangan, gedung serbaguna, serta hunian bagi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan.
Robben menjelaskan, Sekolah Rakyat akan menerapkan sistem pendidikan berasrama penuh. Seluruh aktivitas siswa, baik pembelajaran maupun pembinaan, dilakukan selama 24 jam di lingkungan sekolah.
“Karena ini bentuknya sekolah boarding. Artinya selama 24 jam proses kehidupan Sekolah Rakyat ini seluruhnya tertampung di sekolah ini,” katanya.
Ia menambahkan, konsep Sekolah Rakyat sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto tidak hanya menitikberatkan pada aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter, seperti kedisiplinan, akhlak, kebangsaan, dan keagamaan. Selain itu, siswa akan dibekali keterampilan yang memiliki sertifikasi dan nilai guna.
“Tentunya keterampilan yang tidak asal dan bersertifikasi,” ujar Robben.




































